Kali Gelis, Memori Historis Orang Kudus


Kali Gelis, Memori Historis Orang Kudus

Gemar traveling juga gemar menilik tempat-tempat bersejarah tentunya. Hal itu yang coba saya ungkap dalam kunjungan ke Kali Gelis, Kudus. Kali dalam istilah Jawa berarti Sungai, lalu Gelis berarti cepat. Ya, Kali Gelis mempunyai makna historis sebagai sungai cepat. Cepat yang dimaksud dalam mentalitas orang Kudus adalah cepat membuang sial, cepat dalam hajat, cepat melakukan transaksi dagang, atau cepat dalam transportasi.

Penggalan cerita historis itu agaknya memang benar terjadi. Sungai yang berada persis di timur Kudus Kulon ini sudah menjadi ikon penting masyarakat Kudus. Berada sekitar 500 meter di barat alun-alun simpang tujuh, sungai ini membelah dua distrik penting pada zaman Pemerintah Kolonial. Sungai ini membelah distrik Kudus Kulon sebagai kota tua yang merupakan pusat keagamaan Islam orang Kudus, dengan Kudus Wetan tempat adminitratif Hindia-Belanda.

Di timur Kali Gelis, terdapat alun-alun, masjid agung, pasar, penjara, dan gedung-gedung administratif. Sama seperti konsep kota di Jawa pada umumnya. Dahulu, Pemerintah Kolonial memang sengaja membuat mitos Kudus Wetan dan Kudus Kulon menjadi lekat. Di timur kali gelis inilah pusat pemerintahan kolonial dibangun, sedang di baratnya peradaban Islam dan Tionghoa dikuatkan dengan tradisi dagang.

Tradisi Dagang Masyarakat Di Sekitar Kali Gelis

Kali Gelis sudah dikenal masyarakat Jawa sejak zaman perwalian. Konon, Sunan Kudus adalah seorang Gujarat yang gemar berdagang. Selain berdakwah, Sang Sunan juga mewariskan tradisi berdagang yang kuat masyarakat Kudus. Di Kali Gelis inilah Sang Sunan memulainya.

Siang itu, saya melintasi jembatan besar yang menyambungkan Kudus Wetan dengan Kudus Kulon. Berjalan di sepanjang jalan Sunan Kudus, kemudian saya berhenti dan menengok apa yang sudah terjadi sekian lalu di sungai ini. Airnya memang sudah tak sederas ceritanya, begitupun masyarakat sekitar. Dari penggalan cerita di atas, lantas saya membayangkan sebuah sungai besar, dengan arus air yang deras, kemudian kapal-kapal besar, pasar tiban, serta manusia yang ramai di tanggul-tanggul sungai. Itu kejayaan silam.

Kali ini agaknya sudah jauh berbeda. Kali Gelis yang ada dalam bayangan sejarah telah berubah menjadi sungai yang kumuh dan tak terawat. Sudah tidak mungkin kapal-kapal bersandar lagi, airnya saja hanya sekian meter dari permukaan sungai. Sampah-sampah, pemukiman liar, dan tanaman liar nampak tidak enggan dilihat.

Saya mencoba menyusuri lebih jauh. Memang benar, di sekitar sungai saya melihat bangunan-bangunan tua seperti rumah gedongan ala kolonial, rumah gedongan ala Tionghoa, rumah peninggalan Nitisemito (Raja Kretek Jawa), pabrik rokok tua, pasar, dan tempat-tempat sandaran kapal-kapal pada saat itu. Di sanalah saya benar-benar percaya, bahwa legenda soal Kali Gelis benar-benar ada.

Perdagangan lah yang menghidupkan sungai ini. Konon, banyak kapal dari pedagang Cina dan Gujarat yang mampir ke Kali Gelis. Mereka memulai masuk di Kudus dan menyebarkan tradisi dagang. Komoditi yang laris adalah kain, piring cina, tembakau, dan bahan yang susah ditemukan di Kudus. Kapal-kapal itu datang dari bengawan sungai, yakni sungai Tanggulangin, sungai Logung, dan Sungai Piji. Sungai itu membelah kawasan tengah Jawa pada zaman dahulu. Orang-orang memanfaatkannya untuk bertransportasi dan berdagang ke Kudus.

Para pedagang yang juga berasal dari daerah pedalaman Jawa tersebut hinggap pada tanggul-tanggul sungai. Mereka menjajakan dagangan mereka. Lama-lama kerumunan pedagang menjadi sebuah pasar. Dari pasar itulah Kudus mulai berkembang sebagai kota perdagangan dan kota industri.

Saya harus mempercayainya. Cerita itu nampaknya mewariskan apa yang saya lihat di siang itu. Di sepanjang sungai, terdapat dua pasar yang tak kalah ramai setiap harinya. Satu adalah Pasar Balangan, pasar yang menjual barang-barang loakan seperti onderdil kendaraan, pecahan besi, baju bekas, hingga jimat-jimat Jawa. Pasar ini sering ramai oleh lelaki pada siang hari. Di sebrang jalan raya Sunan Kudus, terdapat pasar yang kedua. Pasar ini kerap disebut Pasar Kali Gelis. Dua-duanya berlokasi disepanjang tanggul dan memanjang sekitar satu kilometer. Pasar Kali Gelis sama seperti pasar lainnya, menjaul bahan makanan setiap hari yang ramai oleh ibu-ibu.

Dua pasar itu sudah membuktikkan saya tentang legenda mashurnya Kali Gelis dalam sejarah perdagangan di Kudus. Yang menarik, bukan soal pasar saat ini, tetapi kisah kebesaran Kali Gelis dalam sejarah Kudus. Kisah yang menceritakkan, bagaimana asal-usul perdagangan di Kudus bisa sebesar sampai saat ini.

(pasar mbalangan yang menjual barang bekas seperti buku,orderdil sepeda motor dan lainnya)

Mitos Yang Tak Terungkapkan

Siang itu memang siang yang tak begitu panas. Beruntunglah kami bisa menyusuri sungai dengan santai dan teduh. Saya berjalan hanya sekitar dua kilometer menyusuri bantaran sungai. Saya melihat rumah-rumah besar, ada juga komplek rumah kumuh, pasar, klenteng, masjid, hingga bangunan-bangunan bersejarah lainnya.

Semua cerita itu cepat-cepat saya kemas dalam pertanyaan yang menarik. Apa sih yang menarik dari katagelis. Saya berbincang pelan dengan Mbah Rukani, seorang kakek-kakek yang sudah tinggal di bantaran sungai sejak tahun 1950-an. Rumahnya berada di atas tanggul yang landai, sedang halaman balakangnya adalah endapan tanah Kali Gelis yang mengering. Sejak dulu, Mbah Rukani sering memperhatikan orang-orang yang melakukan ritual di sungai ini. Ada yang membuang sajen, mandi suci, membuang baju-baju bekas orang meninggal, atau bahkan mengambil air sungai sebagai air suci.

Rasa-rasanya memang aneh mendengar cerita berikut. Saya mengenal Kudus sebagai kota santri, apalagi wilayah Kali Gelis adalah Kudus Kulon, tempatnya para Kiai dan Santri. Misteri inilah yang menjawab kenapa sungai ini bernama Kali Gelis. Nampaknya cerita itu dibenarkan oleh Mbah Rukani. Sejak dulu, sungai ini terkenal dengan arus airnya yang deras atau cepat. Siapa saja yang membuang sesuatu ke dasar sungai, maka akan cepat hanyut dan lenyap. Keadaan itu yang membuat banyak orang mengartikanya berbeda.

Banyak orang-orang Kudus yang suka melakukan ritual di sini. Mereka membuang apa saja yang dirasa cepat untuk hanyut. Bahkan, menurut Mbah Rukani, ada anggapan yang mengatakan sungai ini sungai suci, bermuara di Gusti Allah. Jadi, semua yang diharapkan dituangkan ke sungai ini. Dari situlah sungai ini disebut Kali Gelis, atau sungai cepat menuju apa yang diharapkan.

Misteri ini sudah sedikit menjelaskan saya mengenai penasaran dengan istilah Kali Gelis. Kali ini benar-benar besar dengan kemashuran ceritanya. Kali ini juga mempunyai peran besar bagi masyarakat Kudus sekarang. Melewati beberapa desa dan memberi sumber air bagi daerah-daerah yang dialiri. Hulu sungai berasal dari Gunung Muria, sedangkan muaranya berada di mana-mana, dari laut di teluk Jepara hingga Bengawan Solo di pedalaman Jawa.

No comments

Powered by Blogger.