Bunga Kamboja, Simbol Perjuangan Hidup dari Nenek Harni

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus – Pemakaman umum, ternyata berperan sebagai nadi kehidupan bagi sebagian orang. Tak dipungkiri, keberadaan pemakaman umum menjadi sebuah ladang usaha bagi masyarakat sekitar. Dari berjualan bunga, penyedia jasa membersihkan makam, juru parkir kendaraan hingga pencari bunga kamboja.

Berbicara mengenai para pencari bunga kamboja, masih terekam jelas beberapa tahun yang lalu. Profesi satu ini banyak di pilih oleh masyarakat sekitar pemakaman, salah satunya, masyarakat sekitar Pemakaman Umum Ploso Kudus. 

Dahulu, disela kegiatan ziarah kubur terdapat pemdangan, perjuangan para pencari bunga kamboja yang sibuk berjalan menyusuri setiap sudut pemakaman, dengan sebuah kayu yang berujung runcing serta kantong plastik yang berisikan bunga-bunga kamboja.

Mengingat manfaat dari bunga kamboja kering yang digunakan sebagai campuran obat nyamuk, parfum hingga teh seduh. Tak ayal bunga tersebut begitu dicari.

“Dahulu di Dukuh Jetak Kembang ada sekitar 20 orang yang berprofesi sebagai pencari bunga kamboja. Waktu itu, kami rela berkeliling ke pemakaman-pemakaman umum di Kudus untuk mencari bunga kamboja,” ungkap Harni (65).


Pada saat itu, harga jual bunga kamboja kering yang mencapai Rp. 100.000 per kilo, menjadikan profesi ini begitu menggiurkan. Tak heran, jika saat itu banyak orang yang banting stir menjadi pencari bunga kamboja.

Namun tanpa disadari, sekarang cukup sulit melihat menemukan pencari bunga kamboja di sejumlah Pemakaman Umum. Mengapa?

“Harga bunga kamboja kering terus merosot, dari Rp. 100.000 per kilo kini turun hingga Rp. 8.000 per kilo. Harga yang menurun drastis menjadikan banyak pencari bunga kamboja memilih beralih profesi,” tutur nenek yang berprofesi sebagai pencari bunga kamboja tersebut.

Meskipun demikian, kecintaan Harini pada bunga kamboja tidak melunturkan semangatnya untuk terus mengais bunga kamboja. “Sekarang di Dukuh Jetak kembang tersisa lima orang yang bertahan hidup dengan mencari bunga kamboja. Kini, kami hanya mengais bunga kamboja dari Pemakaman Umum Ploso Kudus saja,” katanya.

Usia senja dan tubuhnya yang sudah renta menjadikannya tak bisa segesit dahulu. Dalam seminggu ia hanya mampu mengumpulkan lima hingga enam kilo bunga kamboja kering.

Semangatnya untuk membuat dapurnya trus mengebul, menjadikan Harni terus bertahan menjalankan profesi ini. “Selain mencari bunga kamboja, saya sering diminta oleh para peziarah untuk membersihkan sejumlah makam di Kuburan Ploso. Alhamdulillah, uangnya bisa digunakan untuk menyambung hidup,” pungkas Harni, Selasa (30-01-2018).

Fluktuasi kondisi perekonomian saat ini, tidak menghentikan sebagian orang untuk tetap menyandarkan kehidupannya dari Tempat Pemakaman Umum (TPU).

No comments

Powered by Blogger.