Fakta Dawet Ireng yang Harus Anda Tahu

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus – Menikmati dawet saat cuaca terik, merupakan suatu kenikmatan tersendiri. Di Kota Kretek ini, anda dapat dengan mudah menemukan penjual dawet di Pasar Kliwon, Objek Wisata Religi Menara Kudus dan penjual keliling.

Dawet yang banyak dijual di Kudus adalah dawet ayu yang berasal dari Kabupaten Banjarnegara. Dawet merupakan minuman tradisional yang berisi campuran santan, gula aren dan cendol.

Cendol pada minuman dawet yang Anda kenal selama ini, memiliki warna cerah seperti hijau dan merah. Siapa sangka, ternyata ada cendol yang menggunakan warna ireng (hitam -red).

Dawet ireng merupakan minuman khas dari Kabupaten Purworejo. Berbicara dawet ireng, maka sepintas anda akan berpikir, dari mana warna hitam tersebut didapatkan? Menurut Ali (46) seorang penjual dawet ireng, warna hitam dari dawet ireng dihasilkan dari merang (batang padi yang sudah kering -red) yang dibakar.


"Pewarna yang digunakan sangat alami, yakni dari abu bakaran merang. Sehingga dawet yang saya jual bebas dari bahan pewarna sintesis. Jadi aman untuk dikonsumsi," ujar Ali, Rabu (24-01-2018).

Secara implisit, tak ada perbedaan yang mencolok antara dawet ireng dengan dawet ayu, hanya saja cendol yang digunakan berwarna hitam.

"Cara penyajian dawet ireng sedikit berbeda dengan dawet ayu, yakni disajikan dalam mangkuk yang terbuat dari tanah liat (gerabah -red), bukan mangkuk keramik ataupun gelas," katanya.

Lanjut Ali, "Pemanis yang digunakan terbuat dari air aren yang di masak dengan gula aren, bukan menggunakan sirup."

Tak ayal, jika rasa yang dihasilkan dari santan dawet ireng sedikit asam. Meskipun demikian, tidak mengurangi sedikitpun kenikmatan serta kesegaran dawet ireng. Justru hal tersebut menjadi ciri khas dari dawet ini. (NNC/AM)

No comments

Powered by Blogger.