Generasi Muda Rawan Terpengaruh Paham Radikalisme

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus – Generasi muda rawan direkrut menjadi anggota teroris karena mudah terpengaruh paham radikalisme. Hal itu karena para pemuda dalam perjalanan pencarian jati diri, sehingga keyakinan yang dimiliki mudah goyah.

”Banyak sekali pemuda yang terpengaruh paham radikal, menyimpang dari ajaran Islam. Sehingga terpengaruh mengikuti langkah teroris untuk memusuhi sesama warga Indonesia,” Kata Ketua Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Polres Kudus di Hotel @HOM Kudus, Kamis (25-01-2018).

Ken menceritakan, doktrin yang diberikan kepada kalangan anak muda yakni dengan meyakinkan bahwa hukum di Indonesia ini keliru karena bertentangan dengan Al-Quran. Maka dari itu orang yang tidak menganut hukum Islam, dianggap kafir dan halal darahnya atau layak untuk dibunuh.

Pancasila, lanjutnya, dianggap menyimpang dari ajara Islam. Sehingga harus didirikan negara baru yang menganut sistem khilafah. ”Membunuh atau bunuh diri adalah jihad bagi mereka,” ujarnya.

Bagi para teroris atau penganut paham radikalisme, warga Indonesia bagaikan buah yang masih dalam bungkus plastik, namun tercebur ke dalam sampah karena berada dalam sistem yang bukan berdasarkan Al-Quran.


Karena sudah kotor, imbuh Ken, maka warga Indonesia harus dibersihkan dengan cara dibunuh. ”Terutama sasaran yang paling diincar adalah kepolisian, atau dalam hal ini Densus 88 yang dianggap selalu menghalangi tujuan mereka membangun negara khilafah,” tuturnya.

Sementara itu, Kapolres Kudus, AKBP Agusman Gurning mengatakan, dalam kegiatan FGD sengaja mendatangkan narasumber kompeten dalam hal terorisme yakni Ken Setiawan dan Mantan Komandan Mantiqi III Jamaah Islamiyah (JI), Nasir Abas.

”Kami berharap dua narasumber itu dapat menyadarkan betapa berbahayanya paham radikalisme di Indonesia. Karena dapat mengancam keutuhan NKRI dan toleransi di negara ini yang terbangun dengan sangat baik sejak lama,” ujar Agusman.

Dia menyebut, di Kudus saat ini ada tiga mantan pelaku tindak pidana terorisme. Ketiganya mendapatkan pengawasan secara khusus untuk dipantau agar tidak menyebarkan paham radikal.

Meski begitu, Agusman enggan membeberkan identitas maupun alamat ketiga orang tersebut. Alasannya agar tidak membuat tersinggung mereka.

”Kami juga melakukan kegiatan-kegiatan untuk menangkal berkembangnya jaringan teroris dan paham radikalisme di Kudus. Di antaranya sosialisasi ke sekolah dan juga melakukan pengawasan khusus terhadap mantan pelaku tindak pidana terorisme,” ungkapnya. (MK/AM)

No comments

Powered by Blogger.