Hydrogel Jadi Solusi Media Tanam Efektif dan Efisien

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus - Hydrogel adalah sebuah polimer yang mampu menyerap air 100 hingga 200 kali dari ukurannya. Keberadaan hydrogel sangat membantu dalam mengurangi konsumsi air dan intensitas penyiraman pada tanaman.

Oleh karenanya, kini banyak masyarakat yang menggunakan hydrogel sebagai media tanam. Dengan prinsip kerja hydrogel yang mudah menyerap air, kemudian melepaskannya saat dibutuhkan tanaman, menjadikannya sebagai solusi yang praktis dalam bercocok tanam.

Kini, hydrogel banyak digunakan sebagai media tanam untuk tanaman hias di dalam ruangan. Variasi warna hydrogel mempertinggi nilai estetika dari tanaman dan ruangan.

Tak heran, jika pengusaha hydrogel mulai kebanjiran order. Salah satunya Miftah (30) warga Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, yang isknews.com temui dalam Car Free Day (CFD), Minggu (21-01-2018) pagi.

“Dahulu tanaman hias in door (dalam ruang –red) menggunakan media tanah, menjadikan proses perawatannya harus telaten. Karena jika lupa menyiram, maka tanaman akan mudah layu dan mati. Selain itu, kendalanya adalah pengelolaan air sisa penyiraman agar tidak mengotori ruangan,” kata Miftah.


Berkembagnya pengetahuan, munculah media tanam hidroponik. Media ini dirasa cukup efektif dalam proses perawatannya. Akan tetapi, hidroponik dapat berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk jika tidak dikelola dengan benar.

“Pada saat itu, tahun 2015 saya melihat adanya media tanam hydrogel. Setelah saya pelajari, penggunaan media hydrogel ini sangat efektif dan efisien. Karena saya tidak diharuskan untuk menyiram tanaman secara rutin, membuang air sisa penyiraman, memberikan pupuk untuk tanaman dan resiko sebagai tempat perindukan nyamuk,” jelas warga Desa Jogoloyo ini.

Menurutnya, hidrogel terbuat dari rumput laut, membuat produk tersebut begitu aman digunakan. Tak hanya itu, hydrogel dapat digunakan hingga 2 tahun tanpa proses penyiraman.

“Hanya saja setiap 4 bulan, hidrogel akan mengempes dan harus rendam oleh air agar bisa digunakan kembali” tuturnya.

Dari ilmu yang ia pelajari secara otodidak dan dukungan dari istrinya, Nana (30), mendorong ia untuk menggeluti usaha hydrogel ini. Tak terduga, usahanya mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

Meskipun hydrogel kini di kenal masyarakat luas, ia mengaku masih kerap menuai sejumlah kendala dalam menjalankan usahanya tersebut. “Hydrogel saya impor dari Jepang, sehingga sering delay (terlambat –red) pengiriman karena barang kebetulan lagi kosong,” ungkap Miftah.

Tambahnya, “Selain itu, sering kali pembeli meminta agar barang dikirim melalui kurir. Bukannya saya tidak mau, tetapi pengiriman tersebut berpotensi tinggi merusak produk. Saya takutnya pembeli kecewa dengan produk saya.”

Pemasaran produknya dilakukan secara offline dan COD untuk area Demak, namun resellernya sudah merambah daerah lain di sekitar Demak. “Untuk penjualan saya melalui COD, yang penting pembeli saya puas dengan produk yang saya jual,” ujarnya. (NNC/AM)

No comments

Powered by Blogger.