Inilah Asal Usul Desa Sadang

LIINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus -  Salah satu Desa yang terletak di sebelah timur Kota Kretek ini, merupakan saksi bisu dari perjalanan cinta seorang Joko Satrian. Desa ini adalah Desa Sadang yang terletak di Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.

Diceritakan, pada zaman Kasunanan Muria, anak dari Sunan Muria yang bernama Joko Satrian memiliki hobi mencari burung. Bersama kawannya, Joko Satrian memulai perjalan mencari burung ke daerah selatan Gunung Muria.

Perjalanan tersebut menghantarkan Joko Satrian dan kawannya pada sebuah Desa, yang kini dikenal dengan nama Desa Sadang. Di tengah kesibukan mereka mencari burung, Joko Satrian bertemu dengan seorang gadis cantik yang bernama Noro Reob.

Tak disangka, kecantikan gadis tersebut mampu memikat hati Joko Satrian. “Karena rasa cinta Joko Satrian kepada Noro Reob yang begitu besar, mendorongnya untuk segera menikahi Noro Reob. Akhirnya Joko Satrian mengutus temannya, untuk menyampaikan kepada Sunan Muria mengenai keinginannya menikahi Noro Reob,” ungkap Kliwon (66).

Dalam penantiannya menunggu restu dari Sang Ayah, Joko Satrian mememui orang tua Noro Reob yang bernama Nyai Wati, diungkapkannya keinginan tersebut kepada Nyai Wati.



“Karena teman yang di tunggunya tidak kunjung datang, sedangkan rasa cintanya kepada Noro Reob yang semakin hari semakin dalam. Membuat Joko Satrian akhirnya memutuskan untuk menikahi anak Nyai Wati tersebut,” tutur juru kunci makam Joko Satrian tersebut.

Hari terus bergulir, akhirnya teman Joko satrian kembali dengan membawa sebuah kotak ang merupakan jawaban atas restu Sunan Muria pada keinginannya menikahi Noro Reob.

Setelah membuka isi kotak tersebut, Joko Satrian begitu terkejut. Melihat kotak tersebut berisi Kain Kafan dan sebuah keris. Pemberian dari Sang Ayah tersebut, membuatnya berfikir keras.

“Apakah keris dan kain kafan ini merupakan pertanda bahwa Sunan Muria tidak memberikan restu pernikahannya dengan Noro Reob? Akhirnya Joko Satrian memukan sebuah kesimpulan, bahwa keris dan kain kafan tersebut merupakan simbol tidak direstuinya pernikahannya dengan Noro Reob,” ujar Kliwon, Selasa (30-01-2018).

Karena merasa bersalah telah menjalankan pernikahan tanpa restu dari Sunan Muria, akhirnya Joko Satrian bunuh diri dengan keris pemberian dari Ayahnya.

Terlepas dari kisah cinta Joko Satrian, jika menelisik kembali Desa Sadang maka akan ditemui bahwa sosok Nyai Wati, yang merupakan mertua dari Joko Satrian, dahulunya adalah seorang istri dari Bupati Pati.

“Kala itu, Nyai Wati merasa kurang mendapatkan perhatian dari sang suami, hingga ia memutuskan untuk pergi dari rumah dan menggembara,” kata lelaki paruh baya itu.

Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, menghantarkan Nyai Wati pada sebuah Desa di Kecamatan Jekulo. Pada waktu itu, Desa tersebut masih berupa hutan membuat Nyai Wati harus melakukan babat alas (menebang pohon di hutan untuk dijadikan sebuah lahan/pemukiman –Red).

Proses babat alas membuat Nyai Wati merasa kelelahan dan mengeluh. “Wis jug, jug. Hidup saya sudah sengsara, lalu arit yang saya gunakan juga telah rusak. Jika saya membakar daun kering ini, lalu abunya mengotori sebuah daerah. Maka daerah tersebut bernamakan Sadang,” tutur Kliwon (66), menirukan ucapan Nyai Wati.

Apa yang diucapkan Nyai Wati benar terjadi, abu pembakaran daun kering tersebut bertiup ke arah selatan dari tempatnya membakar. Sehingga daerah tersebut diberi nama Desa Sadang. Sedangkan daerah yang digunakan oleh Nyai Wati dalam membakar daun kering tersebut dinamakan Dukuh Tajug, yang diambil dari kata Jug jug. 

No comments

Powered by Blogger.