Lestarikan Kuliner Tradisional, Yitno Bertahan Menjual Rambut Nana

LINTASKUDUS.ISKNES.COM, Lintas Kudus - Tak dipungkiri, warna dan bentuk dari suatu makanan merupakan magnet bagi masyarakat. Terutama anak-anak yang cenderung menyukai makanan yang memiliki warna dan bentuk menarik.

Terbatasnya pewarna alami, mendorong sejumlah pedagang untuk beralih menggunakan pewarna sintesis. Disayangkan, tidak semua pedagang menggunakan pewarna sintesis yang food grade (aman dikonsumsi –red).

Harga yang lebih mahal dan sedikitnya variasi warna yang dihasilkan, membuat pedagang menggunakan pewarna non-food grade. Seolah tak memperhatikan dampak dari penggunaan pewarna non-food grade yang dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi pembelinya.

Salah satu makanan yang sangat erat dengan penggunaan pewarna sintesis adalah arum manis. Arum manis atau “rambut nana” adalah makanan yang sudah populer sejak era 90-an.

Dahulu, makanan arum manis dapat dengan mudah ditemukan di sekolah. Tak hanya di sekolah, banyak penjual arum manis yang berkeliling dari desa ke desa, menjajakkan dagangannya sambil memainkan alat musik tradisional.


Perkembangan zaman, tidak melunturkan kecintaan masyarakat pada makanan satu ini. Meskipun kini proses pembuatan, rasa dan tekstur arum manis tidak seperti dahulu, namun makanan ini tak lekang oleh waktu.

Yitno (42), seorang penjual arum manis asal Desa Singocandi, Kecamatan/Kabupaten Kudus mengatakan, ia telah menggeluti usaha ini selama 5 tahun lamanya. Ia berkisah, keahliannya mengolah rambut nana merupakan warisan dari ayahnya, Sukardi (65) yang juga seorang penjual makanan trdisional tersebut.

“Arum manis yang saya buat masih sederhana seperti arum manis yang dijual di era 90-an, bahan bakunya menggunakan gula pasir dan tepung beras. Proses produksinya juga masih sederhana yakni tepung beras digoreng, lalu dicampur dengan gula pasir yang sebelumnya telah di masak,” paparnya, Minggu (21-01-2018) saat ditemui di Car Free Day (CFD).

Jika dilihat secara sekilas, tidak ada yang menarik dari arum manis yang dijual Yitno. Namun jika diperhatikan lebih dalam, arum manis yang dijualnya memiliki warna yang terkesan monoton, tidak seperti arum manis pada umumnya memiliki warna yang beragam dan berbendar.

“Bahan baku pembuatan arum manis saya adalah gula pasir. Warna gula pasir jika dimasak akan berubah menjadi kecoklatan, ini yang membuat warna arum manis yang saya jual menjadi kecoklatan,” ujarnya.

Saat isknew.com menanyakan mengapa tidak menggunakan pewarna makanan, mengingat anak-anak lebih menyukai makanan yang memiliki warna beragam? Jawaban Yitno cukup mengejutkan.

“Saya memang sengaja tidak menggunakan pewarna dalam arum manis yang saya jual, karena mengkonsumsi makanan yang menggunakan pewarna sintesis tidak baik bagi kesehatan. Selain itu, anak saya di rumah sering mengkonsumsi arum manis yang saya jual, sehingga saya harus memastikan produk saya sehat dan aman untuk dikonsumsinya,” jawab bapak tiga anak ini.

Meskipun arum manis yang dijual Yitno memiliki warna yang kurang menarik, namun hal tersebut tidak menyurutkan masyarakat untuk membeli. Kesadaran dan konsistensinya untuk tidak menambahkan pewarna sintesis pada arum manis yang dijualnya, menjadikannya memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.

“Banyaknya sosialisasi dan meningkatnya pemahaman masyarakat akan bahaya makanan yang menggunakan pewarna sintesis, membuka ladang rezeki bagi saya dan keluarga,” pungkasnya. (NNC/AM)

No comments

Powered by Blogger.