Mantan Panglima JI Buat Pengakuan, Ini Tiga Target Utama Teroris

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus – Mantan Komandan Mantiqi III Jamaah Islamiyah (JI) yang sekaligus mujahidin perang Afghanistan, Nasir Abas mengungkap adanya tiga target kelompok pelaku terorisme untuk menjaga eksistensinya. Masyarakat diingatkan dan diajak untuk terus mewaspadainya.

Hal itu disampaikannya, saat menjadi pemateri di kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan mengambil tema ”Pencegahan Faham Radikalisme dan Terorisme untuk Keutuhan NKRI” di Hotel @HOM Kudus, Kamis (25-01-2018).

Diketahui, Nasir Abas menjadi anggota JI selama lebih dari satu dekade. Dia menyaksikan pasang surut JI, menjadi instruktur menembak bagi para militan muda, melatih nama-nama teroris yang kini kesohor seperti Noordin Mohammad Top, Umar Patek, Ali Imron, hingga otak Bom Bali Imam Samudra.

“Target pertama pelaku terorisme itu mendapatkan dukungan masyarakat. Itu kenapa mereka menggunakan segala cara agar apa yang dilakukannya dianggap benar oleh masyarakat,” kata Nasir.

Target kedua pelaku terorisme, lanjutnya, adalah menguasai sebuah wilayah untuk dijadikan negara baru. Dalam mencapai target tersebut pelaku terorisme melakukan berbagai kampanye, antara lain menganggap pemerintahan yang sah sebagai kelompok kafir dan menolak dasar yang sah dari sebuah negara.


”Kita sama-sama sepakat keutuhan NKRI adalah harga mati. Oleh karena itu mari kita sama-sama menjaga Indonesia tetap utuh, mari kita lawan adanya terorisme,” ajak Nasir.

Untuk menjaga eksistensinya, masih Nasir, setelah target mendapatkan dukungan masyarakat dan menguasai sebuah wilayah, kelompok teroris akan menargetkan membangun kekuatan militer sebagai bagian dari pertahanan.

”Kalau kita lihat, mereka selalu berusaha menguasai wilayah yang memiliki kawasan hutan lebat, karena di sana mereka bisa melakukan pelatihan ala militer,” bebernya.

Dengan mengetahui tiga target pelaku terorisme tersebut, Nasir berharap, masyarakat bisa mengedepankan kewaspadaan. Dia juga mendorong masyarakat pro aktif mencegah penyebarluasan paham radikal terorisme, sekaligus mencegah target pelaku tersebut tercapai.

Diceritakannya, dahulu ketika dia tertangkap di hadapan polisi yang tidak menyiksanya selama interogasi, Nasir membuat pilihan terpenting dalam hidup. Dia bersedia menceritakan semua yang dia tahu tentang organisasinya pada aparat.

Pilihan membantu polisi, menurutnya datang murni dari hati nurani. "Saya tak ingin plin-plan, tidak mungkin saya jadi anggota JI sambil membantu polisi. Saya pikir waktu itu mungkin inilah jalan yang harus ditempuh untuk meluruskan makna jihad, bahwa membunuh masyarakat biasa itu tak pernah diajarkan dalam agama manapun," ujar Nasir.

Kegiatan FGD ini, selain menampilkan Nasir Abas sebagai pembicara juga Ken Setiawan pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, sebuah lembaga yang akan merehabilitasi para korban cuci otak oleh kelompok NII di Indonesia, dan sebagai moderator diskusi itu Dekan Fakultas Hukum Universitas Muria Kudus, Dr Hidayatullah. (MK/AM)

No comments

Powered by Blogger.