Masjid Wali di Desa Jepang Mejobo Direhab Total

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus – Masjid Wali di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, direhab total. Rehab dilakukan bertahap sejak 2017 dan dibeayai dari iuran jamaah dan donator desa setempat itu, diperkirakan akan selesai selama dua tahun dengan beaya keseluruhan mencapai sekitar Rp 2,5 miliar.

Menurut Ndimuk, pelaksana atau mandor bangunan rehab, pada rehab tahap pertama yang dilaksnakan 2017 lalu, bagian yang dikerjakan adalah bangunan sayap untuk jamaah perempuan di kanan dan kiri bangunan utama, ukuran masing-masing 7 x 12,5 meter.
“Seluruh bagian bangunan ini dirombak dengan tiang cor semen, selanjutnya semua dinding dan lantai akan dipasang lkeramik."

Untuik bangunan utama masjid, lanjutnya, karena merupakan bangunan cagar budaya (BCB) yang dilindungi pelestariannya dan tidak boleh dirubah, rehag hanya dilakukan dengan mengganti plafon, serta bentuk jendela di dinding sebelah kanan dan kiri mihrab (tempat imam).

“Selaiin penggantian plafon, semua dindiing dan akan dikeramik, juga bagian lantanya yanh berukuran 12,5 x 12,5 meter persegi, direhab dengan membongkar keramik lama dan mengganti dengan yang baru.”


Sementara itu, untuk bagian serambi masjid rehab tidak tidak hanya mengganti plafon dan keramik, melainkan juga disertai peninggian bagian atap, setinggi 3 meter. Rehab bagian atap serambi berukuran paling luas dari Masjid Wali Desa Jepang itu, yakni 27 x 17 meter, juga disertai penggantian genteng yang baru.

“Pada Januari 2018 ini, tahun ke dua rehab Masjid Wali Desa Jepang ini. Untuk bisa selesei seluruhnya, membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Beaya yang sudah terserap selkitar Rp 1 miliar,” jelas Ndimuk.

Menurut sejarahnya, Masjid Wali Jepang Kudus yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-16 itu, konon dibangun Arya Penangsang dengan bantuan Sunan Kudus. Masjid digunakan sebagai tempat istirahat dan Sholat setelah ia menempuh perjalanan dari Jipang di daerah Cepu, Blora, sebelum menghadap Sunan Kudus.

Sunan Kudus, guru sekaligus pendukung Arya Penangsang dalam merebut tahta Demak dari Sunan Prawoto, sepupunya yang telah membunuh Raden Kikin selepas Sholat Jumat di pinggir kali. Karena perkembangan zaman, masyarakat setempat lambat laun mengganti nama Jipang menjadi Jepang, menjadi nama desa dimana masjid itu berada.(DM)

No comments

Powered by Blogger.