Perpustakaan Tertua di Kota Kretek, Hidup Segan Mati Tak Mau

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus – Yayasan Perpustakaan Islam dan Penyiaran Ilmu Pengetahuan (YPI PIP) yang terletak di kompleks Alun-alun Kudus, tak menjadikan perpustakaan ini ramai pengunjung. Mirisnya, kunjungan terakhir di perpustakaan tersebut pada tahun 2015 silam.

Hiruk pikuk aktifitas lalu lintas di Alun-alun Kudus, tak membuat keberadaan perpustakaan tertua di Kota Kretek ini, disambangi oleh masyarakat.

Yang tersisa hanya bangunan tua yang telah usang dan tidak terawat. Tak ayal, jika banyak masyarakat yang berspekulasi bahwa keberadaan perpustakaan tersebut, hanya tinggal cerita. Tragis rasanya, ada namun dianggap tiada.

Hal ini mendorong isknews.com untuk mengulik perjalanan perpustakaan pertama dan tertua di Kota Kretek ini. Udin (50) seorang penjaga YPI PIP menuturkan bahwa perpustakaan tersebut berdiri sejak tahun 1975.

"Dahulu, saat masih ada Universitas Darul Ulum Islamic Center Sudirman (Undarwis) dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Kudus masih di gang empat, perpustakaan ini begitu ramai pengunjung. Banyak mahasiswa dan dosen yang berkunjung ke perpustakaan ini," ungkap Udin.


Tak banyak yang tahu, bahwa perpustakaan yang menempati gedung di sebelah Selatan Toko Buku Hasan Putra, dengan luas bangunan 640 meter persegi tersebut, merupakan tanah wakaf dari PR Jambu Bol, yang kemudian dikelola oleh keluarga Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK).

Dahulu perpustakaan ini, digunakan untuk memeberikan santunan anak yatim piatu di Kabupaten Kudus. Setiap bulannya banyak donatur yang memberikan santunan anak yatim dan buku untuk menambah koleksi perpustakaan ini.

Seiring bergulirnya waktu, yayasan tidak lagi beroprasi memberikan santunan untuk anak yatim piatu. Donatur yang memberikan santunan anak yatim piatu dan perawatan perpustakaan kini sudah tidak ada.

Tidak ada buku-buku baru yang menghiasi rak di perpustakaan ini, yang ada hanya buku-buku tua yang telah menguning dan kurang terawat berbaris rapi pada sejumlah rak perpustakaan.

Perkembangan teknologi, rendahnya minat baca dan Sarana Prasarana (Sarpras) di perpustakaan ini yang sudah tidak layak, menjadikan perpustakaan ini sepi pengunjung.

"Sekarang tak perlu datang ke perpustakaan untuk membaca buku, dengan adanya google dan youtube, kalian bisa belajar di manapun dan kapanpun," ujar lelaki paruh baya ini.

Kurangnya kegiatan untuk meningkatkan minat baca masyarakat menjadikan perpustakaan sepi pengunjung.

"Letak perpustakaan ini dekat dengan sejumlah sekolah, nyatanya tak membuatnya ramai oleh anak sekolah. Seharusnya guru-guru sekolah dapat berperan aktif dalam meramaikan kembali perpustakaan, dengan memberikan tugas untuk mencari buku ke perpustakaan dan mengajak siswa untuk belajar di perpustakaan," keluh udin.

Kendala utamanya, adalah tidak adanya anggaran dana untuk perawatan dan pengelolaan perpustakaan ini. Sehingga proses perwatan dan pengelolaan perpustakaan hanya dilakukan sekedarnya.

Mengingat, ini adalah perpustakaan pertama dan tertua di Kota Kretek. Di samping itu, letaknya yang begitu dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Kudus, seharusnya perpustakaan ini mendapatkan kemudahan dalam memperoleh bantuan perawatan dan pengelolaan.

Dengan adanya bantuan perawatan dan pengelolaan dari pemerintah, serta peran aktif dari tenaga pengajar dan seluruh lapisan masyarakat, diharapkan dapat membawa perpustakaan ini kembali ke era kejayaaannya. (NNC/AM)

No comments

Powered by Blogger.