Selama 2017 Data Pencari Kerja Capai 10.681

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus – Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kudus selama 2017 terdapat 10.681 pencari kerja terhitung sejak januari hingga Desember 2017, jumlah tersebut terbagi atas 4.874 pria dan 5.807 wanita

Peningkatan jumlah pencari kerja di Kabupaten Kudus diawali saat tahun ajaran baru dan usai wisuda. ” Sementara pada bulan selanjutnya tidak bisa kita tentukan dan jumlahnya fluktuatif,” ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kudus Bambang Tri Waluyo.


Hal ini juga berlaku saat ada lowongan dari sejumlah perusahaan di Kota maupun Kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah. “Otomatis ketika mereka mendaftar ke sini namanya sudah diganti kartu antar kerja I atau yang disebut kartu kuning,” katanya.

Setelah mendapatkan kartu tersebut otomatis perusahaan penerima kerja mengembalikan ke Dinas, sayangnya tak semua perusahaan mengembalikan.

”Seharusnya itu kewajiban perusahaan dan kesadaran untuk mengembalikan kartu tersebut sehingga kita dapat memantau jumlah yang telah diterima kerja,” tambahnya.

Dalam peraturan yang berlaku disebutkan jika perusahaan tidak mengembalikan selama enam bulan maka data yang bersangkutan akan dihapuskan sebagai pencari kerja.

Dari data pencari kerja tersebut jumlah terbanyak didominasi lulusan SMA dan sisanya jenjang S1, di lanjut SMP dan Strata 2. “Kalau rinciannya berdasarkan kuisioner kami, ada yang ingin berkerja di perusahaan, persiapan menuju kerja dan bahkan mereka yang sudah berkerja dan menginginkan pekerjaan lain," ujarnya.

Maka, atas dasar itu, lanjut Bambang, peningkatan SDM mutlak diperlukan, antara lain melalui latihan keterampilan kerja seperti pada BLK yang telah sediakan untuk masyarakat Kudus. Secara faktual, peningkatan SDM melalui latihan kerja itu memang masih sangat diperlukan mengingat hingga kini derajat pendidikan angkatan kerja masih cukup rendah.

Selain menyesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja, penyelenggaraan pelatihan kerja perlu mengakomodasi mereka yang ingin berusaha mandiri atau berwirausaha (entrepreneurship). Jelasnya, penyelenggaraan latihan kerja perlu didesain bukan hanya berorientasi mencari kerja, melainkan juga mempermudah bagi mereka yang ingin berusaha mandiri.

Menurut Bambang, jiwa kewirausahaan dapat didorong dengan meningkatkan pengetahuan, skill, dan motivasi melalui orientasi usaha baru dan memperkenalkan produk atau jasa baru. Salah satu aspek yang perlu dicermati untuk membentuk jiwa kewirausahaan ialah meningkatkan pengetahuan tentang potensi unggulan yang dapat dikembangkan menjadi usaha.

Sangat diharapkan, rencana peningkatan SDM bisa berjalan sesuai komitmen pemerintah sehingga dapat memberikan modal bagi penduduk, terutama kaum muda untuk berusaha dan bekerja. (AJ)

No comments

Powered by Blogger.