Stigma Negatif, Jadi Salah Satu Penyebab Kematian ODHA

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus - Stigma negatif tentang Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) masih begitu melekat di masyarakat. HIV-AIDS sering dikaitkan dengan prilaku seks bebas, prilaku seks sesama jenis dan penyalah gunaan obat terlarang.

Hal ini yang kemudian membuat ODHA dianggap negatif masyarakat. Padahal, penyakit HIV-AIDS dapat menular dan menginfeksi siapa pun, termasuk mereka yang tidak pernah melakukan tindakan asusila atau menyalahgunakan obat terlarang.

ODHA di tengah masyarakat sering kali dikucilkan, dianggap sebagai aib dan direndahkan. Banyak dari ODHA yang kemudian diberhentikan dari pekerjaannya, diusir dari tempat tinggalnya dan dijauhi oleh keluarga dan tetangganya.

Pelaksana Bidang Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Ruwisno (50) mengungkapkan, kebanyakan ODHA ialah korban yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan pertolongan. Stigama negatif masyarakat terhadap ODHA membuat hidupnya semakin terpuruk.

“Penyakit yang terus menggerogoti fisiknya ditambah dengan tekanan psikis yang diterima dari masyarakat, mempercepat ODHA mencapai stadium AIDS atau terminal dan memilih mengakhiri hidupnya,” ungkapnya.


Oleh karenanya, lanjut Ruwisno, perlu ada penghapusan stigma negatif tentang ODHA di masyarakat. Terkait hal itu, ia membeberkan sejumlah hal untuk menghapus stigma negatif kepada ODHA.

Pertama, HIV adalah penyakit kutukan untuk orang dengan prilaku seks bebas, seks sesama jenis dan pengguna obat terlarang. Jadi, setiap orang bisa terinveksi HIV, bahkan bayi yang tidak berdosa pun dapat tertular penyakit HIV. Sehingga, stigma bahwa HIV adalah penyakit kutukan untuk orang dengan prilaku seks bebas, seks sesama jenis dan pengguna obat terlarang tidak sepenuhnya benar.

“Sejatinya, tidak ada satupun orang yang mengharapkan menderita HIV, sebagian besar penderita HIV adalah korban, seperti ibu rumah tangga yang tertular HIV dari suaminya atau anak yang terlahir dari ibu seorang ODHA,” kata Ruwisno.

Dilanjutnya, “Mereka tidak melakukan tindakan asusila, namun mereka tertular dan terinfeksi HIV. Jadi, hapuslah jauh-jauh anggapan bahwa HIV adalah penyakit kutukan untuk orang yang melakukan tindakan asusila.”

Kedua, ketakutan masyarakat akan infeksi HIV, memicu sejumlah prilaku berlebihan kepada ODHA, seperti menolak saat diajak bersalaman, makan dan hidup bersama, hingga tidak mau mempekerjakan ODHA.

“Hal yang perlu digaris bawahi adalah penularan HIV-AIDS hanya melalui hubungan seks, pemberian ASI oleh ibu seorang ODHA dan pemakaian jarum suntik bergantian dengan penderita HIV,” tegas Ruwisno.

Virus HIV di dalam tubuh manusia banyak ditemukan di sel sperma, darah, cairan vagina dan ASI. Sehingga masyarakat masih bisa melakukan banyak kegiatan bersama penderita HIV tanpa harus menjauhinya.

Terakhir, kurangnya pemahaman masyarakat tentang dampak dari stigma negatif terhadap ODHA. Stigma yang berkembang di masyarat berdampak sangat besar pada ODHA maupun pemerintah.

“Dengan adanya stigma negatif tersebut, menjadikan orang takut untuk melakukan tes HIV. Padahal, ketakutan untuk melakukan tes HIV menghambat proses deteksi dini penyakit ini. Hal tersebut yang membuat penderita HIV terdeteksi setelah memasuki stadium AIDS atau terminal. Akibatnya banyak nyawa yang tidak dapat tertolong,” papar Ruwisno.

Bagi ODHA, masih Ruwisno, stigma negatif tersebut, menjadi sebuah tekanan psikis yang menyebabkan ODHA stres dan depresi. Lalu menutup diri dari pergaulan dan lingkungan sekitar, hingga melakukan aksi bunuh diri. Selayaknya, masyarakat merangkul ODHA untuk tetap semangat dan terus produktif dalam menjalani kehidupannya.

“Sudah cukup tindakan diskriminasi terhadap ODHA, carilah informasi yang valid terkait penyakit HIV-AIDS dan mulailah untuk menyebarkan stigma positif tentang ODHA dari sekarang,” pungkas Ruwisno. (NNC/AM)

No comments

Powered by Blogger.