Ternyata Bubur Merah Putih, Dalam Filosofi Jawa Memiliki Arti Mendalam

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus - Pulau Jawa dengan beragam bahasa dan kebudayaan yang lestari, di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Setiap kebudayaan yang ada di masyarakat Jawa memiliki filosofi yang mendalam tentang kehidupan manusia.

Salah satunya bubur merah putih, merupakan sebuah tradisi sederhana yang dilakukan masyarakat Jawa, untuk menyambut kelahiran seorang anak ke dunia ini. Secara implisit, bubur merah putih merupakan simbol kehidupan manusia yang tercipta dari pertemuan antara sperma dan sel telur.

Warna merah dalam bubur ini dihasilkan dari penambahan gula merah, yang melambangkan sel telur. Sedangkan warna putih bubur ini, melambangkan sperma. Sehingga, bubur merah putih ini digunakan sebagai simbol pertemuan antara kedua sel tersebut yang kemudian menjadi seorang anak.

Untuk mengetahui secara mendalam terkait filosofi dari bubur merah putih, isknews.com menemui seorang pengamat budaya asal Desa Demangan yang bernama Fahmi Yusron (35), Selasa (23-01-2018).

“Dalam penyajian bubur merah putih di Jawa terdapat lima versi, yakni setengah bubur merah dan bubur setengah putih, bubur merah dominan dengan sedikit bubur putih di atasnya, bubur putih dominan dengan sedikit bubur merah di atasnya, bubur putih saja dan bubur merah saja,” ujar pria yang karib di sapa Iyon itu.


Untuk penyajian versi pertama, bubur merah putih disajikan dalam piring dengan setengah bubur merah dan setengah lagi bubur putih. Filosofi dari penyajian seperti ini, dimaksudkan agar anak yang dilahirkan mewarisi setengah sifat ayah dan setengah sifat ibunya.

Versi kedua, bubur merah putih disajikan dalam piring dengan bubur merah yang dominan kemudian di atasnya berikan sedikit bubur putih. Penyajian ini memiliki filosofi agar anak yang dilahirkan kelak dominan mewarisi sifat ibunya yang lembut dan sedikit sifat pekerja keras dari ayahnya.

“Yang ketiga, disajikan dalam piring dengan bubur putih yang dominan kemudian diberikan sedikit bubur merah di atasnya. Penyajin semacam ini memiliki filosofi agar anak yang dilahirkan kelak mewarisi sifat pekerja keras seperti ayahnya dan sedikit kelembutan hati dari ibunya,” terang Iyon.

Selanjutnya yang keempat, disajikan dalam piring hanya bubur merah saja. Penyajian seperti ini memiliki filosofi agar anak yang dilahirkan mewarisi karakter lembut dan penyayang seperti ibunya.

Terakhir, bubur disajikan dalam piring hanya menggunakan bubur putih saja. Filosofi dari penyajian semacam ini, agar anak yang dilahirkan mewarisi sifat pekerja keras dan pantang menyerah seperti yang dimiliki ayahnya.

“Cara penyajian bubur merah putih disesuaikan dengan harapan kedua orangtua terhadap sang anak,” pungkas Iyon. (NNC/AM)

No comments

Powered by Blogger.