Barang Antik Peluang Usaha Rendah Pesaing

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus - Salah satu peluang usaha yang menggiurkan dengan pesaing yang cukup rendah adalah usaha barang antik. Sebelum melangkah lebih jauh, harus dipahami bahwa barang antik adalah barang yang memiliki usia di atas 50 tahun. Sedangkan barang kuno adalah barang yang memiliki usia di bawah 50 tahun.

Bisnis barang antik menjadi sebuah usaha yang menggiurkan, lantaran harga jual barang-barang tersebut yang begitu fantastis. Jumlahnya yang terbatas dan syarat akan nilai histori yang begitu dalam, membuat harga barang tersebut melambung tinggi. Meskipun memiliki harga yang tinggi, hal tersebut tidak menghalangi para pecinta barang antik untuk terus memburunya hingga ke pelosok negeri.

Seperti yang diungkapkan Farid (30), kolektor barang antik asal Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan/Kabupaten Kudus, jika daya tarik dari sebuah barang antik adalah nilai historinya. Tak dipungkiri, setiap barang pasti memiliki sebuah cerita bagi pemiliknya. Semakin dalam cerita yang terukir, maka semakin sulit untuk pemilik melepaskan barang tersebut ke pembeli. Hal inilah yang menjadikan harga barang antik begitu mahal.

"Namanya pecinta barang antik, kalau sudah suka sama satu barang biarpun mencarinya sampai ke pelosok Indonesia dan harganya sangat mahal, akan tetap di beli. Karena barang antik bukan sekedar koleksi tetapi juga menjadi sebuah investasi," kata Farid.

Beberapa pembeli yang sedang memilih barang antik milik Aris Sugianto (23). (23-02-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Hal serupa diungkapkan oleh Aris Sugianto (23) seorang kolektor dan penjual barang antik asal Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Berawal dari hobi mengkoleksi motor klasik di tahun 2012, tak sengaja turut membawanya menyukai barang antik.

Pada media ini, Jumat (23-02-2018) ia mengungkapkan bahwa barang antik yang pertama kali dimilikinya adalah mesin ketik merek Brother tahun 80-an, yang didapatkannya secara tidak sengaja dari sebuah pengepul rongsokan di daerah Loram, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Dari situ, ketertarikannya terhadap barang antik berlanjut. Pada tahun 2017, ia putuskan untuk mencoba merambah bisnis jual beli barang antik.

"Awalnya memang ada rasa sayang untuk menjual barang tersebut, namun mau bagaimana lagi karena sudah diniati untuk berjualan barang antik, sehingga tetap di jual. Akan tetapi ada beberapa barang yang tidak akan saya jual, karena nilai historinya yang begitu besar seperti mesin ketik yang pertama kali saya miliki tersebut," ungkap Aris.

Masih terekam jelas diingatannya, barang antik miliknya yang pertama dijual adalah lampu strongking. Lampu tersebut dahulu dibelinya dengan harga Rp 50 ribu dan dijualnya kembali dengan harga Rp 150 ribu. Dari situ Aris melihat peluang yang mengiurkan dari bisnis tersebut dan terus menekuninya sampai saat ini.

Setiap bulannya ia dapat menjual 50 barang antik berbagai macam jenis. "Kalau pembeli paling banyak mencari TV tabung, lampu strongking, telepon dan radio. Kebanyakan yang beli digunakan untuk dekorasi kafe hingga studio foto," tuturnya.

Di ungkapkannya, meski keuntungan yang didapatnya cukup besar akan tetapi frekuensi penjualannya tidak banyak. Begitupun untuk mencari konsumen, perlu adanya sebuah langkah promosi yang luas dan selalu meng-update stok barang untuk menjaring konsumen dari berbagai penjuru Negeri.

Akan tetapi hal tersebut tidak menjadi sebuah kendal yang berarti baginya. Karena baginya barang antik tidak hanya sebatas bisnis yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Melainkan sebuah benda yang akan mengingatkannya akan kenangan dan kisah hidup yang begitu dalam.

"Tak salah jika orang mengatakan bahwa koleksi barang antik merupakan sebuah investasi. Karena semakin lama disimpan, semakin banyak nilai histori yang terekam, maka semakin tinggi pula harganya," paparnya. (NNC/AM)

No comments

Powered by Blogger.