Bukan Sekedar Nama, Taman Bumi Wangi Jekulo Menyimpan Kisah

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus - Sebuah taman yang berada di ujung timur Kota Kudus ini, seolah menjadi sebuah magnet yang menarik banyak masyarakat lokal maupun luar kota untuk datang ke sana. Terdapatnya arena bermain anak, ruang bersantai dan tersedianya beragam kuliner menjadikan Taman Bumi Wangi selalu ramai dipadati pelancong.

Banyak pengunjung yang berpelesir sekedar untuk bersantai melepas penat, menemani anaknya bermain hingga berswafoto. Tak dipungkiri, tata ruang yang “instagramable banget” menjadikan taman tersebut banyak diburu oleh pengguna jejaring sosial.

Akan tetapi ada satu hal menarik dari Taman Bumi Wangi. Jika pemberian nama taman yang ada di Kota Kudus, identik dengan nama daerah di mana taman tersebut berada. Hal ini tidak berlaku dengan Taman Bumi Wangi yang ada di Desa Jekulo.

Rabu (21-02-2018), media ini mencoba menanyakan ke sejumlah pengunjung taman mengenai kisah pemberian nama Bumi Wangi. Beberapa pengunjung yang kami temui, mengaku tidak tahu mengenai cerita penyematan nama Bumi Wangi pada taman tersebut.

Taman Bumi Wangi Desa/Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Rabu (21-02-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Akhirnya kami menemui Sujatmiko (45), seorang tokoh masyarakat desa setempat, tentang kisah pemberian nama taman Bumi Wangi. Ia mengungkapkan bahwa saat itu, Pemerintah Desa (Pemdes) mengajak sejumlah perwakilan masyarakat mengusulkan nama untuk taman tersebut.

"Gagasan yang diusung oleh Pemdes saat itu, menginginkan semua masyarakat Kudus dapat merasa memiliki taman tersebut, tidak hanya masayarakat setempat saja. Jika penamaannya mewakili sebuah lokasi, maka rasa kepemilikan teman tersebut hanya dirasakan oleh masyarakat setempat saja," ungkap Sujatmiko.

Dari sekian banyak nama yang diusulkan, diantaranya adalah Bumi Wangi yang kemudian disepakati untuk dijadikan nama taman. Sekaligus mengingatkan masyarakat setempat tentang mitologi asal usul Desa Jekulo yang di dalamnya terdapat nama Bumi Wangi.

"Dahulu hidup seorang santri Sunan Muria yang bernama Mbah Wali Abdul Jalil. Karena ilmu yang didapat sudah cukup, kemudian Sunan Muria mengutusnya untuk menyebarkan agama Islam," tutur Sujatmiko.

Imbuhnya, sambil menirukan ucapan Sunan Muria pada Mbah Wali Abdul Jalil pada waktu itu, "Abdul Jalil muridku, sudah saatnya kamu menyebarkan agama Islam. Pergilah ke Selatan, jika nanti bertemu tempat yang ‘buminya wangi’ maka berhentilah di situ."

Kemudian naluri Mbah Abdul Jalil menghantarkannya pada sebuah tempat yang kini bernama Jekulo. Dari kisah tersebut menjadikan nama Bumi Wangi sebagai sebuah slogan atau ikon untuk wilayah Jekulo.

"Setelah ditelusuri mengenai makna Bumi Wangi, tersepakati bahwa secara etiologi Bumi Wangi bermakna Keharuman Dunia. Keharuman dunia yang dimaksudkan adalah ilmu pengetahuan. Dikaitkan dengan sejarah Desa Jekulo yang merupakan tempat orang-orang menimba ilmu dari berbagai pondok yang ada di sana. Bahkan di Jekulo ada sebuah pondok yang sangat tua dan telah menghasilkan jutaan santri yang telah tersebar ke berbagai penjuru nusantara," tuturnya.

Hal inilah yang menjadikan Desa Jekulo begitu erat dengan sebutan Bumi Wangi. Dipilihnya nama Bumi Wangi sebagai nama taman di Jekulo, diharapkan dapat menumbuhkan rasa kepemilikan bersama yang mampu menumbuhkan sebuah gerakan untuk bersama-sama merawat keindahan dan menjaga taman tersebut dari hal-hal negatif. (NNC/AM)

No comments

Powered by Blogger.