Dari Dukuh Jambean Terciptalah Desa Purworejo

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus - Konon katanya sebelum menjadi sebuah Desa bernama Purworejo, daerah ini hanya sebuah perdukuhan yakni Jambean, Plumbungan dan Bonggoro. Dari ketiga dukuh tersebut yang menjadi pusat cikal bakal Desa Purworejo adalah Dukuh Jambean. Ada sebuah kebiasaan unik dari masayarakat Jambean yang menjadikan daerah tersebut, dijuluki dengan sebutan Purworejo.

Berbicara mengenai Dukuh Jambean, rasanya kurang afdol jika tidak mengetahui asal mula Dukuh tersebut. Dikisahkan, dahulu kala Jambean merupakan suatu daerah yang sangat subur. Di daerah tersebut banyak ditumbuhi oleh pepohonan, salahsatu pohon yang mendominasi adalah Pohon Jambe (pinang -red). Dari banyaknya pohon jambe yang tumbuh subur di daerah tersebut, masyarakat mengenal dengan sebutan Jambean. Budaya tutur ini disampaikan Admin Desa Purworejo, Nur Ihsan (66).

“Pada tahun 1957, Dukuh Jambean merupakan sebuah perkampungan sepi penduduk. Waktu itu perkampungan tersebut hanya dihuni oleh 36 rumah saja,” sebutnya, Kamis (22-02-2018).

Suasana perkampungan yang sepi menjadikan sejumlah tokoh masyarakat setempat, berinisiatif untuk membuat sebuah pertunjukan. Keberadaan pertunjukan tersebut diharapkan, menjadi sebuah tempat berkumpulnya warga untuk menciptakan suasana perkampungan lebih semarak.

Kantor Balai Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Kamis (22-02-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Dibuatlah sebuah pertunjukan kesenian dan digelar sebulan sekali yang menyajikan kesenian Tembang Mocopat yang diiringi dengan Sendra Tari. Sebagaimana yang diperkirakan oleh tokoh masyarakat, pentas tersebut berhasil menyedot perhatian masyarakat, hingga banyak warga yang hadir memeriahkan kegiatan tersebut. Suasana semarak begitu terasa setiap kali pertunjukan tersebut berlangsung.

Berjalannya waktu, karena pertunjukan tersebut menyajikan kesenian yang terkesan monoton menjadikan masyarakat Jambean mulai bosan.

"Karena pertunjukan yang disajikan terkesan monoton, sehingga masayarakat Jambean merasa bosan. Jumlah masyarakat yang menghadiri pertunjukan tersebut, berangsur-angsur berkurang dan akhirnya hanya tersisa segelintir orang yang masih menghadiri pertunjukan tersebut," ungkap Ihsan.

Dari peristiwa tersebut, kemudian dilakukan sebuah evaluasi oleh sejumlah tokoh masyarakat. Dari evaluasi tersebut ditariklah sebuah kesimpulan bahwa masyarakat Dukuh Jambean setiap kali diajak untuk berkumpul ramainya hanya saat awal saja. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Dukuh Jambean memiliki karakter yang cepat bosan dengan sejumlah perkumpulan yang diselenggarakan di daerah tersebut.

Sejumlah tokoh masyarakat kemudian memberi julukan Dukuh Jambean dengan istilah “Purworejo” yang diambil dari bahasa sansekerta. Dimana kata “Purwo” berarti “Awalan” dan “Rejo” berarti Ramai, atau secara keseluruhan diartikan sebagai awalan yang ramai.

"Karena masyarakat Jambean ramainya saat diawal saja, maka daerah tersebut saya namakan Desa Purworejo," kata Ihsan sambil menirukan ungkapan salah seorang tokoh masyarakat Dukuh Jambean pada waktu itu. (NNC/AM)

No comments

Powered by Blogger.