Desa Kirig, Bagaimana Asal Usulnya?

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus – Menceritakan Desa Kirig, tidak akan bisa terlepas dari membicarakan riwayat seorang tokoh bernama Galuh Mahesadiro. Karena dari tokoh inilah legenda atau asal-usul Desa Kirig, dikenal oleh masyarakat Kabupaten Kudus, khususnya warga setempat.

Desa Kirig merupakan wilayah Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, berjarak 8 kilometer dari pusat Kabupaten. Dengan luas wilayah 559,669 hektare, desa yang mempunyai penduduk sebanyak 4.764 jiwa, terdiri atas 2.407 laki-laki dan 2.357 perempuan. Pembagian wilayahnya terdiri dua dusun, yakni Dusun Krapyak dan Dusun Jangkrik yang masing-masing membawahi 2 RW – 10 RT.

Konon, menurut ceritanya yang dituturkan secara turun-temurun, sebelum bernama Kirig, pada zaman dahuku kala, desa itu tidak lebih sebuah padukuhan kecil yang dikenal dengan nama Dukuh Pandak. 

Pendiri dukuh ini, atau yang pertama kali menempati ialah Galuh Mahesadiro, seorang tokoh bangsawan yang bergelar Sido Branti. Dengan kerja kerasnya seorang diri, tanah yang semula dipenuhi dengan tanaman glagah itu, berhasil “disulap” menjadi pedukuhan.

Sebagaimana sebuah daerah baru, pedukuhan itu pun menarik minat dan banyak didatangi orang yang kemudian menetap bersama keluarganya. Dan membuka lahan, baik untuk perumahan atau untuk bercocok tanam. 


Pada perkembangannya, dengan semakin banyaknya pendatang, pedukuhan itu semakin meluas, sampai akhirnya menjadi sebuah desa, ditandai dengan diangkatnya seorang petinggi desa, demang dan sebagainya. Namun sebagai penguasa tunggal di desa itu, tetap dipegang oleh Sido Branti. Setelah wafat, dia digantikan oleh Seco Legowo seorang keturunan Raja Mataram. 

Setelah memerintah beberapa lama, Sido Branti wafat dan di makamkan di tengah-tengah pedukuhan. Warga masyarakat setempat mengenal makam, sebagai pesarean Mbah Sido Branti. 

Dia digantikan putranya, Mukhamad Masri (Maulono Hadiwidjojo), seorang tokoh yang dikenal sangat sakti. Hal itu mengundang keinginan dari seorang wanita dari Mataram, Dewi Siti Nusiyah, untuk menguji kesaktian petinggi pedukuhan yang kesukaannya mencari ikan di Rawa Grinting Wetan itu.

Melalui sepucuk surat atau nawala yang dikirimkan kepada Kilono Hadiwijoyo, Dewi Siti Nursiyah meminta agar ki demang menyerahkan seluruh hartanya kepadanya. Menerima surat itu, ki demang pergi bersemedi menenangkan diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, mengambil tempat di sebelah Timur Dukuh Pandak (sekarang bernama Dusun Jelak, dari asal kata jebule lakon wangsit).

Dewi Siti Nursiyah beserta pasukannya yang menyamar sebagai perampok, datang dan berniat hendak mengambil seluruh harta demang Kilono Hadiwijoyo. Dengan kesaktiannya, Kilono Hadiwijoyo, melawan dan terjadi pertempuran yang menyebabkan terjadinya banjir darah di medan perseteruan itu. Sehingga mengancam menenggelamkan Dewi Siti Nursiyah dan prajuritnya.

Akibatnya Dewi Siti Nursiyah dan prajuritnya menjadi sangat ketakutan, yang dalam bahasa Jawanya “kirig-kirig”. Ki Demang pun, memberikan pertolongan kepada Dewi Siti Nursiyah dan prajuritnya, mereka akhirnya mau bertobat. Sejak kejadian inilah desa ini diberi nama Desa Kirig. (DM/AM)

No comments

Powered by Blogger.