Eyang Suryo Kusumo Cikal Bakal Desa Mejobo

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus – Setiap bulan Maulid dalam kalender Islam, warga masyarakat Desa/Kecamata Mejobo, Kabupaten Kudus, memperingati Haul Eyang Suryo Kusumo, tokoh yang dipercaya sebagai cikal bakal Desa Mejobo. Sehingga, asal usul desa tersebut, tidak bisa dipisahkan dari jasa dan perjuangan Waliyullah yang bergelar Assayyid Ahmad Ba Faqih itu.

Peringatan haul Eyang Suryo Kusumo, sudah menjadi tradisi setiap tahun. Kegiatan rutin yang dilakukan oleh warga Desa Mejobo melibatkan Warga Desa Kirig, adalah kirab budaya. 

Kirab yang menempuh jarak sekitar 2 kilometer, berangkat dari lapangan Desa Kirig dan berakhir di Makam Eyang Suryo Kusumo di Desa Mejobo itu, membawa sejumlah gunungan yang isinya antara lain, hasil bumi dan buah-buahan, tiwul, ingkung ayam dan nasi.

Ribuan peserta kirab dari warga Desa Kirig dan Mejobo yang sebagian besar peserta didik dari mulai TK hingga SMA, berangkat dari lapangan Desa Kirig, selanjutnya melewati rute Jalan Raya Mejobo, menuju Makam Eyang Suryo. 

Pada barisan paling depan, adalah pembawa sejumlah gunungan, tiga gunungan berisi sayuran dan hasil bumi, satu gunungan berisi buah-buahan, tiwul (jajan pasar -red) 15 tampah, 30 ingkung ayam dan satu kuintal nasi.

Kecuali gunungan yang berisi 30 ingkung ayam dan nasi satu kuintal, dibawa langsung ke Makam Eyang Suryo Kusumo. Ingkung ayam yang jumlahnya 30 ekor dan nasi 1 kuintal itu, khusus untuk berkat atau kenduri haul Eyang Suryo Kusumo. 


Setelah didoakan oleh sesepuh dan juru kunci makam, ingkung dan nasi akan dibagikan kepada warga dua RT, yakni RT 09 dan RT 10, Desa Mejobo yang tempat tinggalnya di sekitar Makam Eyang Suryo Kusumo. 

Dari jumlah ingkung ayam 30 ekor, 3 ekor diikutsertakan dengan gunungan untuk kemduian diperebutkan warga, sedangkan 27 ekor untuk selamatan haul Eyang Suryo Kusuma.

Siapakah Eyang Suryo Kusumo? Konon, dulu ada seseorang dari Mataram yang menjadi demang (setingkat dengan kepala desa saat ini -red) bernama Ki Secolegowo. Beliau bersama keluarganya tinggal di sekitar masjid Al-Ma’wa.

Karena Ki Demang tersebut masih trah Mataram, daerah yang ditinggalinya terbebas dari biaya pajak, atau disebut tanah perdikan dari kata merdeka.

Selain daerah ini, desa-desa di sekitarnya tetap membayar pajak. Bahasa Jawanya, “mbayar pajak kejaba tanah iki”. Kata “Kejaba” itulah yang kelak menjadi kata “Mejobo” hingga menjadi nama sebuah daerah di sini.

Akan tetapi, setelah Ki Demang memimpin beberapa tahun di sana, beliau kembali lagi ke daerah asalnya, Mataram. Sejak saat itu, daerah ini kembali membayar pajak seperti semula. Meski begitu, nama Mejobo tetap melekat di warga masyarakat desa itu, hingga sekarang. (DM/AM)

No comments

Powered by Blogger.