Limbah Perusahaan di Sulap Jadi Barang Bernilai Ekonomi

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus - Usaha anyaman tali packing tidak sekedar menjadi hasil kriya atau ketrampilan tangan saja, tetapi juga memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik. Tingginya permintaan pasar akan tas belanja, tempat sampah dan bronjong (keranjang untuk motor -red) dari anyaman tali packing menjadikan usaha ini dilirik banyak orang.

Ialah Sarman (65), seorang pengusaha tali packing asal Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus ini misalnya, ketrampilannya dalam menganyam digunakannya sebagai modal utama dalam merintis usaha anyaman tali packing. Tak disangka ketrampilan menganyam yang menjadi warisan turun-temurun dari leluhurnya, mampu mendatangkan pundi-pundi rupiah.

Bersama putranya Nor Said (32), Sarman membangun usaha anyaman tali packing dari nol. Saat di temui isknews.com, Jumat (24-02-2018) disela kesibukannya menganyam, Nor Said mengungkapkan, bahwa usaha tersebut dirintis dari tahun 2001.

"Awalnya ayah saya melihat tali packing di sebuah perusahaan yang dibakar begitu saja. Dilihatnya tali tersebut memiliki karakteristik yang keras dan kuat, dirasa cocok untuk dikreasikan menjadi sebuah kerajinan tas belanja," kata Said.

Proses menganyam tali packing di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jumat (23-02-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Setelah menjadi sebuah kerajinan tas belanja, Sarman melihat kerajinan tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Lalu Sarman terpikirkan untuk mencoba peruntungannya dalam usaha ini.

Harga bahan baku tali packing yang berkisar antara Rp 3.000 - 5.000 menjadikan modal yang dikeluarkan Sarman waktu itu tidak besar. Dari uang Rp 100 ribu, ia gunakan untuk membeli tali packing ke sejumlah perusahaan di Kota Kudus, dengan ketrampilannya tali tersebut di sulap menjadi tas belanja yang cantik.

Tas tersebut lalu di jual ke sejumlah pasar di Kabupaten Kudus dengan harga Rp 7.000 per buah. Tak disangka, tas buatannya mendapatkan sambutan yang positif dari masyarakat. Bahannya yang kuat, harganya terjangkau dan tahan lama menjadikan produk ini menjadi pilihan para ibu rumah tangga.

Dari situlah usahanya mulai berkembang sedikit demi sedikit. Dengan ketekunan dan kekreatifannya dalam mengembangkan produk, kini usahanya telah menembus sejumlah pasar di Pulau Jawa dan Kalimantan.

Produk yang dihasilkan Sarman telah bervariasi tidak hanya tas belanja, ada juga tempat sampah, beronjong, tempat tisu, parcel dan lain-lain. Dibantu 13 orang karyawan, ia mampu menghasilkan 100 produk yang terdiri dari tas belanja, bronjong dan tempat sampah.

Produk tersebut kemudian disetorkan ke sejumlah agen di Jawa dan Kalimantan. Tak disangka, usaha kecil yang dirintisnya kini mampu menghidupi keluarga dan 13 orang karyawan. Sebuah pembelajaran berharga, bahwa untuk memulai usaha tidak harus dengan modal yang besar dengan kreativitas dan ketekunan, limbah bisa menjadi peluang usaha sebagaimana yang dijalankan Sarman. (NNC/AM)

No comments

Powered by Blogger.