Manajer Data Link Klarifikasi Protes Warga Soal Pembangunan Tower

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus - Buntut ricuh pembangunan Tower (menara -red) Base Transceiver Station (BTS) di Desa Honggosoco RT 01/RW 02, Kecamatan Jekulo, pihak manajemen PT Datalink Manunggal Jakarta memberikan hak jawab, atas tudingan bahwa pembangunan tower tersebut tak mengantongi perizinan.

Dalam klarifikasinya Project Manager Pembangunan Menara Bersama BTS, Yuliarto kepada isknews.com mengatakan, lokasi tempatnya membangun tower di tempat tersebut merupakan titik yang direkomendasikan dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kudus.

Selain itu, pihaknya juga telah memiliki Izin Tata Ruang (ITR) yang diterbitkan oleh Dinas PUPR Kudus. Sementara itu kajian lingkungan yang berupa UKL/UPL, juga sedang dalam proses penyusunannya.

Tak hanya itu, sesuai kesepakatan dengan warga terdampak, pihaknya juga telah memberikan kompensasi kepada warga di radius 52 meter dari area tower. "Kami juga sudah menyetujui klausul warga terkait penyelenggaraan fasilitas umum yang diperlukan oleh warga, dengan daftar nama warga yang kami peroleh dari daftar yang diberikan pihak desa."

Tower BTS yang ditolak warga Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo. (Mukhlisin/SKNEWS.COM)

Termasuk dua warga yang terlihat di dalam video yang beredar luas di media sosial beberapa waktu lalu, yakni Komari dan Darwati. Yuliarto menyebut, keduanya sudah tanda tangan menyetujui pembangunan tower dan sudah menerima kompensasi sejumlah uang yang disepakati.

Terkait tuduhan pendirian tower bakal menimbulkan radiasi yang akan mengganggu kesehatan warga, dia menjelaskan berdasarkan penelitian akademik yang dilakukan salah satunya dari UGM, bahwa radiasi tower itu jauh lebih kecil daripada radiasi yang ditimbulkan oleh telepon seluler atau Personal Computer (PC).

Dia mencontohkan, di bukit Gombel Semarang terdapat puluhan tower yang di bawahnya juga banyak permukiman warga, kampus-kampus, hotel dan sentra kegiatan lainnya. Hingga sekarang masih aman dan nyaris tak ada keluhan dari warga.

Yulianto juga membantah, atas ketakutan warga perihal robohnya tower karena wilayah Desa Honggosoco pada tahun kemarin, merupakan kawasan yang menderita parah akibat angin puting beliung.

"Tower BTS itu didesain oleh konsultan independen untuk bisa menangkal kekuatan angin dengan kecepatan 120 knot perjam. Sedangkan bencana angin terbesar di Indonesia adalah saat terjadi tsunami di Aceh yang berkekuatan 80 knot perjam. Artinya masih aman tidak ada masalah," imbuhnya.

Dia menegaskan, pihaknya sudah membangun ratusan tower, namun hingga saat ini kekhawatiran akan robohnya tower belum pernah terjadi. "Tower ini juga ada asuransinya, jadi kalau seandainya terjadi sesuatu pada benda-benda di bawahnya ada pertanggungan asuransi."

Terpisah, Kasatpol PP Kudus, Djati Solechah melalui Pimpinan Regu, Jasmani mengatakan, terkait dengan pembangunan tower di Honggosoco, pihaknya akan tetap pada peraturan normatif.

Selama pihak pelaksana pembangunan belum mengantongi izin pembangunan, pihaknya akan tetap menyegel lokasi tersebut. Sebab dalam pertemuan dengan warga beberapa waktu lalu disepakati demikian. (MK/AM)

No comments

Powered by Blogger.