Masjid Madureksan Salah Satu Masjid Tertua Kudus

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus - Masjid Madureksan merupakan salah satu Masjid tertua di Kota Kudus. Masjid yang terletak di Dukuh Madureksan, Kelurahan Kerjasan, Kecamatan/Kabupaten Kudus ini, dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1520 masehi.

Menurut cerita, perjalanan syiar agama Islam yang dilakukan Sunan Kudus dimulai dengan membangun Masjid Langgardalem sebagai pusat kegiatan dakwahnya. Berjalannya waktu, dakwah Sunan Kudus mulai berkembang hingga dibangunlah sebuah Masjid di sebelah selatan Masjid Langgardalem, Masjid tersebut kini dikenal dengan nama Masjid Madureksan.

"Masjid Madureksan dibangun oleh Sunan Kudus sebelum dibangunnya Masjid Menara Kudus. Pada masa itu, Masjid ini digunakan sebagai tempat ibadah dan dakwah oleh Sunan Kudus dan para santrinya. Selain itu, Masjid Madureksan digunakan sebagai tempat musyawarah berbagai permasalahan agama dan menyusun siasat perang," ungkap Ketua Pengurus Masjid Madureksan, Rahmat Hidayat (65), Kamis (01-03-2018).

Selain Sunan Kudus, ada seorang tokoh yang mewarnai keberadaan Masjid Madureksan ini, ia adalah Kyai The Ling Sing. Ulama asal Tiongkok ini juga memiliki peranan besar dalam penyebaran Islam di Kota Kudus.

Pada masa itu, di Masjid tersebut sering terjadi sebuah persilangan pendapat antar rekan Kyai The Ling Sing. Di tengah persilangan pendapat yang memanas tersebut, Kyai The Ling Sing sering menjadi seorang tokoh penengah. Kepada rekan-rekannya yang tengah bersilang pendapat, Kyai The Ling Sing senantiasa mengingatkan dengan kata bijak.

"Yen kowe podo padu, kowe uga bisa ngreksa," ucap Rahmat sambil menirukan penuturan Kyai The Ling Sing kepada rekannya yang tengah bersilang pendapat, pada waktu itu. Kalimat tersebut bermakna, Jika kamu saling bersilang pendapat, maka kamu juga harus bisa mengendalikan diri.

Foto Masjid Madureksan sebelum dipugar yang disimpan oleh Rahmat Hidayat di kediamannya di Kelurahan Kerjasan, Kecamatan/Kabupaten Kudus. (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Dari penuturan Kyai The Ling Sing tersebut, kemudian Masjid itu dinamakan dengan sebutan Masjid Madureksan. Nama Madureksan diambil dari kata “Madu” yang berarti “saling bersilang pendapat” dan kata “Reksan” yang berarti “menahan diri”.

Bergulirnya waktu, bangunan Masjid Madureksan mulai terpendam hingga kedalaman 70 sentimeter. Hal ini disebabkan bangunan jalan dan pemukiman sekitar yang lebih tinggi, menjadikan Masjid ini seperti terpendam.

"Saya masih ingat benar, setiap kali hujan tiba Masjid Madureksan selalu tergenang oleh air hujan dan tidak dapat digunakan sebagai tempat ibadah. Karena bagunan Masjid ini saat itu lebih rendah dibandingkan bangunan di sekitarnya, sehingga air hujan banyak yang masuk ke Masjid. Selain itu, bangunan Masjid yang sudah kuno menjadikan Masjid ini membutuhkan proses renovasi," katanya.

Sehingga pada tahun 1998, Masjid Madureksan dipugar total dan berdiri sebuah bangunan baru seperti yang masyarakat kenal saat ini.

"Pemugaran Masjid tersebut memang sesuatu yang dilematis, karena Masjid ini merupakan warisan Sunan Kudus yang syarat akan nilai sejarah. Di sisi lain, masyarakat membutuhkan Masjid tersebut sebagai tempat ibadah. Jika terus-menerus tergenang air banjir, maka Masjid ini tidak dapat bermanfaat sebagaimana fungsinya," tutur Rahmat.

Imbuhnya, "Dari situlah pengurus Masjid memutuskan untuk melakukan pemugaran, agar Masjid ini bisa terus digunakan sebagai tempat ibadah bagi masyarakat sekitar." (NNC/AM)

No comments

Powered by Blogger.