Pantang Menyerah Kunci Sudi Kenyam Kesuksesan

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus - Tak salah jika sebuah pribahasa menyebutkan berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Rupanya pribahasa tersebut begitu melekat pada sosok Sudi (53) warga Desa/Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, seorang pengusaha besi yang sudah 30 berkiprah.

Bapak dengan empat anak ini menceritakan, bahwa dahulu sebelum menggeluti usaha besi, ia pernah melakoni sejumlah usaha seperti rental mobil, berjualan kerupuk, hingga buruh pembuat besi.

Lama bekerja sebagai buruh pembuat besi, menjadikannya paham betul mengenai proses dan pemasaran usaha tersebut. Bermodalkan uang Rp 50 ribu dan keahlian yang dimiliki, ia memutuskan untuk membuka usaha jual beli besi.

Uang tersebut digunakannya untuk membeli 50 kilogram besi. Bahan itu ia datangkan secara khusus dari beberapa kota besar di Indonesia. Besi-besi tersebut, kemudian ia jual ke sejumlah pengrajin besi yang ada di Kota Kudus.

Suasana pembuatan cakar ayam di depan rumah Sudi (53) warga Desa/Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Senin (19-02-2018). 

Usaha yang dirintisnya saat itu sempat terhenti, lantaran ia ditipu oleh rekan kerjanya. "Waktu itu tahun 1989, saya ditipu habis-habisan oleh rekan kerja. Semua barang saya ludes dibawanya menghilang entah kemana," ungkap Sudi.

Semangat Sudi waktu itu sempat goyah, akan tetapi keluarga dan sejumlah teman meyakinkannya untuk terus menggeluti usaha besi. Ia putuskan untuk meminjam dana ke sanak saudara untuk modal merintis usahanya kembali.

Tahun demi tahun berlalu, usaha jual beli besi yang dirintis Sudi mulai berkembang. Hingga pada suatu ketika, ada seorang temannya yang meninta tolong untuk dibuatkan sebuah cakar ayam (besi untuk pondasi rumah -red).

"Kebetulan saat itu ada pekerja saya yang bisa membuat cakar ayam, dari situ saya coba mengembangkan usaha pembuatan cakar ayam," kata lelaki paruh baya itu.

Dari proyek tersebut, mendorong Sudi untuk menggeluti usaha pembuatan cakar ayam, slub, begel dan kolem. Saat ini usaha yang ia jalankan telah berkembang pesat. Pemasarannya telah merambah sejumlah daerah di eks Karesidenan Pati. Untuk memenuhi permintaan konsumen, ia dibantu oleh delapan orang pekerja.

Meskipun kini dirinya telah mengecap manisnya kesuksesan, akan tetapi ia tidak memungkiri jika masih sering ditipu oleh rekan kerjanya.

"Namanya seorang pengusaha itu harus terbiasa dengan hal demikian. Meskipun begitu tetap disyukuri, saya percaya masalah rezeki itu sudah ada yang mengatur," pungkasnya. (NNC/AM)

No comments

Powered by Blogger.