Pasar Online dan Krempyeng Ala FPM Kudus

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus - Dewan Pengurus Cabang (DPC) Federasi Pekerja Mandiri (FPM) Kabupaten Kudus, merupakan organisasi atau wadah bagi para pelaku usaha, khususnya usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang terdiri dari pemilik, penjual, akademisi, petani hingga peternak untuk bersinergi membangun masyarakat berwirausaha.

Berbagai aktivitas ekonomi kemasyarakatan telah dilakukan oleh lembaga ini, salah satu program teranyarnya adalah, Komunitas Jual Beli Online atau disingkat dengan JBO.

Menurut Juru Bicara FPM, Achmad Taufiq, di Kudus akan menjadi percontohan strategi pemasaran produk-produk UKM di kota kretek. JBO ini merupakan kumpulan wirausahawan berbagai jenis produk-produk unggulan di Kudus yang memperdagangkan produknya melalui jalur online, Jumat (16-02-2018).

"Dalam kurun waktu 2 bulan, komunitas jual beli online di bawah naungan DPC FPM Kudus ini, telah menghimpun lebih dari seratus orang wirausahawan di Kudus, tiap hari Jumat sore mereka berkumpul dan berkreasi di sekretariat DPC FPM yang berada Desa Purworejo, Bae, Kudus," jelas Taufiq.

Aktivitas yang dilakukan pelaku JBO ini, selain upaya membangkitkan ekonomi kerakyatan di lingkungan mereka, melalui pemasaran dan jual beli produk UKM, juga dilakukan kegiatan-kegiatan produktif lainya, seperti arisan Guyub Rukun, praktek pembuatan berbagai resep, tukar informasi berbagai produk baru, diskusi, perkenalan sesama anggota baru dan lain sebagainya.

Anggota Federasi Pekerja Mandiri (FPM) sedang berbincang-bincang di sekretariat FPM. (Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Dijelaskan oleh Taufiq, "Seperti hari Jumat minggu lalu, mereka mencoba mempraktikkan pembuatan menu khas, yakni membuat Tape dari bahan baku pisang kepok pipit. Sedangkan Jumat ini arisan Guyub Rukun perdana telah dimulakan dengan anggota 36 peserta arisan. Arisan disepakati dan dikopyok per Jumat dengan nominal Rp 50 ribu per peserta."

Selain itu, komunitas JBO ini juga menyelenggarakan kegiatan koperasi sukses bersama yakni simpan dan pinjam, ditetapkan simpanan pokok Rp 100 ribu dan simpanan wajib Rp 20 ribu tiap bulannya.

"Ditetapkan koperasi ini dikelola dengan cara Syar'i yakni si peminjam tidak dikenakan bunga, namun dengan sistem bagi hasil dan di kehendaki setiap peminjam memberikan sedekah suka rela dengan cara dimasukan ke dalam kaleng infaq yang di sediakn oleh panitia. hingga saat ini simpanan pokok dan simpanan wajib, sudah tekumpul hampir Rp 10 juta dari 43 anggota," terang Taufiq yang juga pengusaha pertanian ini.

Keunikan dan daya tarik dari kegiatan transaksi jual beli produk unggulan dari komunitas anggota JBO ini adalah, setiap penjual yang sudah laku dan selesai transaksi harus memberikan fee secara suka rela untuk dimasukan dalam kas koperasi.

Sehingga pemasukan koperasi tidak hanya diperoleh dari simpanan wajib dan pokok saja, namun juga mendapatkan pemasukan dari fee setiap terjadi transaksi jual beli. Hingga sekarang fee dari hasil transaksi jual beli di JBO ini sudah mencapai Rp 1 juta dalam kurun waktu 3 minggu saja.

"Guna menyemarakan dan dalam rangka meningkatkan penjualan produk, kegiatan pasar unik ini, akan dilakukan kegiatan membuka Pasar Krempyeng dengan metode barter pakai alat, misalnya dengan batok kelapa atau genteng atau koin, jadi panitia menyediakan semacam batok kelapa yang ditukar dengan uang Rp 10 ribu oleh sleuruh anggota yang tergabung dalam anggota JBO-FPM," tuturnya.

Kemudian dari pengurus DPC FPM, meyediakan sarana prasarana berupa tenda, meja kursi dan gerai untuk memajang produk-produk milik anggota. Sehingga, setiap anggota wajib untuk membeli produk-produk tersebut yang ditukarkan dengan koin atau batok kelapa tadi.

"Semoga usaha dan kreasi kegiatan Pasar Online dan Pasar Krempeyeng ini, akan menjadi tren baru di Kudus ini. Guna meningkatkan geliat UKM dan bisa menjadi proyek percontohan, gerakan ekonomi kerakyatan yang sehat dan dinamis di masa yang akan datang," pungkas Taufiq. (AJ/AM)

No comments

Powered by Blogger.