Pekerja Pembangunan Tower BTS di Honggosoco Diprotes Warga

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus - Pembangunan Tower Base Transceiver Station (BTS) di Desa Honggosoco RT 01/RW 02, Kecamatan Jekulo, menjadi pro dan kontra bagi warga setempat. Pasalnya, tower yang berdiri di atas lahan milik Amin Hartono tersebut, hingga kini belum mendapat izin.

Imbasnya, mendapat penolakan dari sejumlah warga yang kontra. Kini pembangunan yang sudah dimulai sejak 2017 lalu terhenti karena disegel oleh Satpol PP Kudus. Kelanjutannya harus menunggu izin dari pihak terkait.

Namun, sejak Senin (19-02-2018) lalu, pengerjaan tower tersebut kembali beroperasi. Akibatnya sejumlah warga melakukan protes, karena berdasarkan kesepakatan sebelum ada izin yang keluar tidak akan dilakukan pengerjaan.

Dari video yang beredar luas di media sosial, sejumlah ibu-ibu melakukan protes. Mereka khawatir akan dampak buruk yang ditimbulkan akibat pembangunan tower tersebut.

Menanggapi hal itu Camat Jekulo, Dwi Yusie Sasepti mengatakan, memang benar pembangunan tower BTS di Honggosoco belum berizin. Karena polemik yang terjadi, pihaknya sudah pernah melakukan pertemuan dengan warga yang pro dan kontra.

Tower BTS di Desa Honggosoco RT 01/RW 02 yang mendapatkan penolakan dari sejumlah warga. (Mukhlisin/ISKNEWS.COM)

"Kami sudah pernah melakukan pertemuan. Dari semua pihak dipertemukan dan akhirnya dicapai suatu kesepakatan hitam di atas putih, yakni pembangunan dihentikan sampai ada izin," tuturnya.

Dari pihak Satpol PP, lanjutnya, juga sudah melakukan penyegelan dengan memberikan garis pembatas yang bertuliskan belum berizin. Dia menyayangkan dengan kembali beroperasinya pembangunan.

"Seharusnya pihak yang terlibat menghargai kesepakatan yang ada. Kami akan tindaklanjuti jika memang tetap beroperasi," tandasnya.

Sementara itu, salah satu pekerja pembangunan, Agus mengatakan, dirinya bersama dengan beberapa teman kerja lain tiba di Kudus, Minggu (18-02-2018). Kemudian langsung melakukan pengerjaan pada keesokan harinya.

Pada saat pengerjaan mendapat protes dari warga, akhirnya dihentikan. Namun pada Jumat (23-02-2018), pengerjaan kembali dilanjutkan. Dan lagi-lagi mendapat penolakan yang lebih keras dari kaum ibu yang kontra.

"Akhirnya pengerjaan dihentikan. Dan kami ya hingga kini menganggur," ujar pria asal Grobogan itu.

Ditambahkan, seandainya tidak ada penolakan dan halangan seperti cuaca buruk, pembangunan dapat diselesaikan hanya dalam waktu lima hari saja. (MK/AM)

No comments

Powered by Blogger.