Polemik Kekurangan Tenaga Guru

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus - Nasib guru honorer menjadi bahan perbincangan publik tatkala Hari Guru, beberapa waktu lalu. Tetapi tak lama, kabar itu lenyap tak membekas. Pangkal persoalannya, perlunya kesigapan Pemda/Pemkab dalam menginventarisasi formasi guru dan jumlah guru.

Menurut Dosen STAIN Kudus, Moh Rosyid, langkah yang telah dilakukan Pemda antara lain, regrouping sekolah dengan sekolah lain karena minimnya jumlah siswa untuk dilanjutkan.

Ada hal lain yang perlu dilakukan Pemkab, lanjutnya, yakni banyaknya guru yang karena naik job menjadi pejabat birokrat, kini mereka turun jabatan menjadi staf administrasi. "Eks-guru jenis ini, idealnya dikembalikan menjadi guru lagi karena kekurangan guru."


Menambal kekurangan jumlah guru dengan model perekrutan guru honorer, masih Rosyid, tak lekang dari persoalan, seperti tak selalu dengan fase seleksi sehingga nirquality tidak merata, tak sesuai kebutuhan yang diharapkan karena “dipaksakan” oleh pejabat setempat.

Dikatakan Rosyid, upaya menarik kembali guru memerlukan dialog yang arif, agar muncul kesadaran bahwa pendidik adalah profesi yang membutuhkan hati nurani sebagai pentransfer ilmu.

“Agar upaya kembali ke guru direspon, perlu insentif khusus, seperti fasilitasi kenaikan pangkat sesuai prosedur atau penempatan di lokasi yang dekat kediaman, dan hal lain yang menyejahterakan,” paparnya.

Pemda harus berpegang teguh pada UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 24 (3) Pemkab wajib memenuhi kebutuhan guru, baik dalam jumlah, kualifikasi akademik, maupun dalam kompetensi secara merata, untuk menjamin keberlangsungan pendidikan dasar dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) jalur pendidikan formal sesuai dengan kewenangan.

"Semoga dengan kembalinya guru yang telah beralih profesi, dapat memperkuat kembali kekurangan guru, serta dapat mengurangi persoalan kekurangan jumlah guru," tandas pegiat toleransi beragama ini. (AJ/AM)

No comments

Powered by Blogger.