Perjalanan Sosrokarono Usai Kembali dari Eropa

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Lintas Kudus - Lama berkelana di Eropa, Raden Mas Panji Sosrokartono akhirnya kembali ke Indonesia pada tahun 1925 M. Ia menetap Kota Bandung, tepatnya di Jalan Pungkur No. 19.

Setelah ke pulangannya ke tanah air, Sosrokartono di tawari sejumlah jabatan oleh Pemerintah Kolonial Belanda, seperti Bupati, Adviseur Voor Inlandse Zaken dan Direktur Museum Bataviaasch Genootschaap Van Kunsten en Wetenschappen di Jakarta. Akan tetapi tawaran tersebut di tolak oleh Sosrokartono.

Ia lebih memilih menjadi Direktur di Perguruan Taman Siswa, lebih spesifiknya di Nationale Middlebare School di Bandung pada tahun 1927 M. Adapun guru di Taman Siswa waktu itu adalah Ir. Soekarno, Dr. Samsi, Mr. Sunario, Soewandi, Mr. Usman Sastroamidjojo dan Iskandar Kartomenggolo. Selain itu, ia juga aktif dalam kegiatan politik pada masa pergerakan nasional.

Karena terus menerus mendapatkan tekanan dari Pemerintahan Hindia-Belanda, akhirnya Sosrokartono memutuskan untuk mengundurkan diri dari Perguruan Taman Siswa. Dirinya meneruskan kiprah politik pada era pergerakan  nasional dengan menghadiri Latihan Kepanduan bersama dengan sejumlah tokoh nasional seperti Ir. Soekarno, memimpin pergerakan di Lapangan Tegallega Bandung, tahun 1928.

Foto RMP Sosrokartono yang tersimpan di rumah Temu Sunarto (53), di Desa Kaliputu, Kecamatan/Kabupaten Kudus, Jumat (02-03-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM).

Setelah mengundurkan diri dari Perguruan Taman Siswa, ia lebih senang hidup sederhana dan tidak mau menikmati kemewahan. Hingga pada tahun 1930 M Sosrokartono mendirikan sebuah paguyuban dengan nama Keluarga Manasuka atau yang lebih di kenal dengan nama Darussalam. Darussalam merupakan sebuah rumah pengobatan yang bersifat sosial dengan sasaran masyarakat menengah ke bawah.

Ia mengadakan penyembuhan spiritual dengan media air putih. Di Jalan Pungkur No 19 Bandung, ia mengabdikan hidupnya untuk menolong masyarakat dari segi pengobatan spiritual. Bakat pengobatan spiritual yang dimilikinya telah terlihat sejak dirinya masih di Genewa (Swiss), saat ia menyembuhkan seorang anak dari rekannya yang mengalami sakit parah. Ilmu spritualnya tersebut terus diperdalam dengan melakukan puasa Ngebleng atau puasa tanpa  buka, sahur dan tidur hingga 47 hari.

Di sisi lain, tempat pengobatan Sosrokartono sering dijadikan sebagai lokasi berkumpulnya para tokoh pergerakan nasional untuk menyusun kemedekaan. Meskipun hidup Sosrokartono saat itu dicurahkan untuk sebuah misi sosial dengan melakukan pengobatan spiritual.

Akan tetapi hal tersebut tidak menutupi kecerdasannya sebagai seorang wartawan Internasional. Saat itu, ia melihat kondisi Eropa yang tengah porak poranda setelah terjadinya Perang Dunia I dan II. Kabar tersebut, ia sampaikan kepada sejumlah tokoh pergerakan nasional, untuk menyusun sejumlah perlawanan kepada Pemerintahan Hindia-Belanda guna meraih kemerdekaan.

Bahkan dirinya merupakan saksi rentetan sejarah perjuangan bangsa ini dalam meraih kemerdekaan seperti hari lahirnya pancasila pada 1 Juni 1945, Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945, hingga peristiwa terpenting bagi bangsa ini yakni proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Sosrokartono merupakan tokoh di balik kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Hal tersebut terlihat dari aktivitas Ir. Soekarno yang kerap mendatanginya ke Darussalam untuk berguru dan menyusun rencana memperjuangkan kemerdekaan.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya, Soekarno berniat menjadikan Sosrokartono sebagai tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Namun hal tersebut ditolaknya, lantaran ia tidak suka jika jasanya terhadap negera ini diketahui oleh halayak ramai.

No comments

Powered by Blogger.