Dua Bukti Perjalanan Dakwah Sunan Muria di Desa Kajar

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Sejarah - Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus ternyata menjadi bagian dari kisah perjalanan dakwah Sunan Muria di Kota Kretek. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, bahwa dahulu sebelum Sunan Muria menjadikan Desa Colo sebagai pusat kegiatan dakwahnya, ia pernah menyebarkan agamanya di Desa Kajar.

Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya benda-benda yang menjadi saksi perjalanan dakwah Sunan Muria di daerah tersebut. Benda tersebut berupa watu lumpang dan sepetak tanah yang pernah digunakan Sunan Muria untuk mebangun sebuah masjid.

Watu Lumpang di Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Kamis (12-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Dahulu daerah Kajar merupakan kawasan hutan belantara. Di sana Sunan Muria pernah melakukan babat alas dan mensyiarkan agama Islam. Lama berdakwah di daerah tersebut, munculah keinginan Sunan Muria untuk membangun sebuah masjid sebagai pusat dakwahnya.

Sepetak tanah telah disiapkan Sunan Muria untuk dibangun sebuah Masjid yang nantinya menjadi pusat kegiatan dakwahnya. Berbagai peralatan dan bahan bangunan juga telah disiapkan Sunan Muria. Akan tetapi peruntungan sepertinya belum berpihak kepada Sang Sunan.

Di tengah kerja keras Sunan Muria dalam membangun masjid, rupanya diketahui oleh warga sekitar. "Kalau orang sini itu istilahnya kemenungsan (ada seorang Sunan atau Wali yang tengah membuat sesuatu, namun diektahui oleh warga -red). Setelah menyadari bahwa ada warga yang mengetahui dirinya membangun sebuah masjid. Sunan Muria menghentikan langkahnya membangun. Beberapa bahan bangunan untuk membangun masjid dilemparkan Sunan Muria ke daerah sekitar guna menghilangkan jejak," kata Staff Pemerintahan Desa Kajar, Ma'ruf, Kamis (12-04-2018).

Masjid Bubar atau tanah yang pernah digunakan Sunan Muria untuk mebangun sebuah masjid di Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Kamis (12-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Tak disangka, bahan bangunan yang dilempar oleh Sunan Muria itu berubah menjadi sebuah batu, yang kini dikenal dengan nama watu lumpang. Bentuknya yang berlubang di bagian atas, membuat batu ini nampak seperti lumpang. dari situlah masyarakat mengenalnya dengan nama Watu Lumpang. Hingga kini, batu yang menjadi bukti perjalanan dakwah Sunan Muria masih terjaga dengan baik. Batu itu, terletak di sebuah kawasan pemakaman yang ada di Desa Kajar.

Sementara tanah yang pernah digunakan Sunan Muria untuk membangun masjid, kini masih terawat dengan baik. Oleh masyarakat sekitar tanah tersebut dikenal dengan nama masjid bubar. 

Tidak seperti masjid bubar pada umunya. Masjid bubar satu ini, masih berupa hamparan tanah yang banyak ditumbuhi oleh pepohonan. Suasana rindang dan sejuk begitu terasa saat memasuki tanah bersejarah ini. Sebagai penanda bahwa tanah tersebut adalah tanah kermat, masyarakat Desa Kajar akhirnya sepakat untuk memagarinya dengan pagar besi. (NNC) 

No comments

Powered by Blogger.