Kepala Desa Samirejo Dilarang Keras Masuk Kawasan Pemakaman

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Sejarah - Pada tahun 1988, di Desa Samirejo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, pernah terjadi sebuah ledakan dari pabrik petasan berskala rumahan yang tumbuh di sana. Ledakan tersebut mengakibatkan 8 orang meninggal dunia dan rusaknya sejumlah rumah warga sekitar lokasi kejadian. 

Beberapa perangkat Desa Samirejo yang dahulu menjadi saksi hebatnya ledakan tersebut mengungkapkan, jika suara ledakan tersebut terdengar sampai radius 100 meter. Dan merusak sejumlah kaca rumah warga yang berada dalam radius 50 meter. Kejadian ledakan tersebut, lalu dikaitkan dengan sebuah mitos yang berkembang di masyarakat Samirejo.

Papan Kantor Balai Desa Samirejo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Senin (16-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kepala Desa Samirejo, Awang Hendra Kusuma, saat ditemui isknews.com, Senin (16-04-2018) mengatakan bahwa di sana terdapat sebuah pantangan yang menyebutkan bahwa Kepala Desa Samirejo dilarang keras untuk memasuki kawasan pemakaman selama masa jabatannya.

Pantangan tersebut berlaku kepada siapapun, bahkan jika ada kerabat atau keluarga dari Kepala Desa Samirejo yang meninggal. Maka Kepala Desa tersebut tetap dilarang untuk memasuki kawasan pemakaman. Boleh untuk menghantarkan jenazah, namun hanya sampai di pelataran makam atau di luar kawasan pemakaman.

Diungkapkan oleh Awang, sapaan akrabnya, jika dirinya pernah menanyakan awal mula dari adanya pantangan tersebut kepada sesepuh Desa Samirejo. Akan tetapi, dari para sesepuh tidak ada yang berkenan menjelaskan hal tersebut kepada Awang.

Kantor Balai Desa Samirejo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Senin (16-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM) 

"Para sesepuh yang saya temui, hanya berpesan agar saya dapat menjalankan pantangan yang ada untuk kebaikan bersama. Dari warga Desa Samirejo juga selalu mengingatkan saya akan pantangan tersebut." ungkap Awang. Dalam setiap kegiatan takziah, Awang mengaku sering kali diingatkan oleh warganya untuk tidak memasuki kawasan pemakaman. 

Kaitannya dengan kejadian ledakan pabrik petasan di Desa Samirejo pada tahun 1988. Satu minggu sebelum kejadian ledakan tersebut, kabar duka menimpa keluarga Kepala Desa Samirejo pada masa itu.

Awang mengungkapkan, jika salah satu kerabat dari Kepala Desa Samirejo pada masa itu ada yang meninggal. Rasa duka mendalam, menghantarkan Sang Kepala Desa menghantarkan jenazah kerabatanya hingga ke dalam lokasi pemakaman.

Kelalaian Sang Kepala Desa tersebut, kemudian diakitkan dnegan kejadian ledakan pabrik petasan yang berselang seminggu setelahnya. Dari kejadian itu, masyarakat menarik kesimpulan jika pantangan tersebut dilanggar maka akan terjadi sebuah bencana yang menimpa Desa Samirejo.

Meskipun waktu telah bergulir, namun masyarakat Desa Samirejo masih memegang teguh larangan tersebut. Awang, sebagai Kepala Desa Samirejo, juga masih menjalankan pantangan tersebut dengan baik.

"Saya hanya menjalankan pantangan yang ada. Harapannya semoga tidak terjadi bencana pada masyarakat Samirejo. Hal semacam ini tidak hanya belaku bagi Desa Sami rejo saja. Saya percaya di luar sana ada desa-desa yang masih meyakini hal seperti ini," pungkas Awang. (NNC) 

No comments

Powered by Blogger.