Mengenal Kedungdowo dari Benda Peninggalan Mbah Kyai Geringsing

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Sejarah - Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, dahulunya merupakan sebuah daerah yang subur dengan hasil pertanian yang melimpah. Letaknya yang strategis, membuat daerah ini cocok sebagai tempat berniaga. Tak heran, jika daerah ini menjadi roda penggerak perekonomian masyarakat Kudus sebelah barat.

Kemakmuran yang dirasakan oleh masyarakat Desa Kedungdowo, tidak terlepas dari peran Mbah Kyai Geringsing yang merupakan tokoh cikal bakal daerah tersebut. Menelisik lebih dalam mengenai sosok Mbah Kyai Geringsing, didapat sebuah benang merah yang meyatakan bahwa, keberadaan daerah ini masih berkaitan erat dengan Desa Garung Kidul dan Dukuh Kedungpaso di Desa Demangan, Kudus.

Umpak peninggalan Mbah Gringsing di Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Senin (23-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Menurut penuturan Kadus 2 Desa Kedungdowo, Abdul Majid, bahwa dahulu hidup empat orang ulama cina yang merupakan pengikut dari Sam Po Kong yang berdomisili di Kudus. Mereka adalah Kyai Telingsing, Kyai Geringsing, Kyai Kringsing dan Kyai Tugeno Al Mukhtar.

Di Kota Kudus ini, mereka mengemban misi untuk mesyiarkan agama Islam di penjuru Kota Kudus. Untuk memulai dakwahnya, mereka membangun sebuah langgar (masjid kecil -red) di daerah Demangan, Kecamatan/Kabupaten Kudus.

"Di tengah kerja keras mereka pembangunan Langgar tersbut. Naas, hal tersebut rupanya diketahui oleh penduduk sekitar. Sehingga dengan terpaksa mereka mengehentikan pengerjaan Langgar tersebut. Hingga kini, Langgar tersebut masih ada dan dikenal dengan nama Langgar Bubrah," kata Majid, sapaan akrabnya (23-04-2018).

Benda peninggalan Mbah Gringsing di Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Senin (23-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Karena gagal membuat Langgar sebagai pusat dakwahnya. Mereka kemudian memutuskan untuk menyebarkan agama Islam secara individu ke sejumlah daerah. Mbah Kyai Telingsing memilih daerah Kedungpaso (nama salah satu dukuh di Desa Demangan -red) sebagai tempat dakwahnya.

Kyai Gringsing memilih Kedungdowo, Kyai Kringsing di Kedungwaru (Demak -red) dan Kyai Tugeno Al Mukhtar di daerah Kedunggarung (yang kini menjadi Desa Garung Kidul -red). Sebelum berpencar untuk memulai syiar agama Islam di daerah-daerah tersebut. Mereka membawa bekal sebuah umpak atau batu yang menjadi alas dari soko papat.

"Setelah gagal membangun sebuah Langgar di daerah Demangan. Ke empat mubaligh tersebut, membagi umpak yang merupakan simbol akan usaha mereka dalam mensyiarkan agama Islam di Kota Kudus. Umpak ini sekaligus menjadi penanda setiap masjid atau langgar yang mereka dirikan," ungkapnya.

Masjid Jami' Nurul Ihsan di Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Senin (23-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Umpak tersebut dibawa oleh Mbah Kyai Geringsing ke sebuah daerah di sebelah barat Kota Kudus. Daerah tersebut di lewati oleh sebuah sungai yang begitu dalam dan lebar atau masyarakat jawa menyebutnya dengan istilah Kedung. Kedung yang ada di daerah tersebut membentang luas mengelilingi daerah ini. Dari situlah muncul istilah daerah Kedungdowo.

Di Kedungdowo, ia melakukan babat alas (membuka hutan untuk pemukiman -red) dan melakukan syiar agama Isalam kepada masyarakat sekitar. Nilai-nilai luhur agama Islam yang tercermin dalam pribadi Mbah Kyai Geringsing, menjadikan banyak masyarakat sekitar yang tertarik dengan agama Islam.

Melihat antusis masyarakat dengan dakwah Islam yang dilakukanya, Mbah Kyai Geringsing kemudian membangun sebuah Langgar sebagai tempat dakwahnya. Umpak yang dibawanya dari Langgar Bubrah, digunakannya sebagai alas soko guru di Langgar yang didirikannya.

Sepeninggal Mbah Geringsig, Langgar tersebut kemudian dipugar menjadi sebuah Masjid yang indah. Masjid ini dilengkapi dengan sebuah menara yang menjulang tinggi dan bangunan dua lanatai serta ornamen-ornamen yang membuatnya terkesan megah. Bangunan peninggalan Mbah Kyai Geringsing ini,di beri nama Masjid Jami' Nurul Ihsan. 

Berdasarkan penuturan Marbot Masjid Jami' Nurul Ihsan, jika Masjid tersebut mengalami pemugaran pada tahun 2002. Pemugaran ini dilakukan lantaran Masjid tersebut tidak dapat lagi menampung jumlah jama'ah sholat yang semakin membeludak.

Setelah dipugar, benda peninggalan Mbah Kyai Geringsing berupa umpak, lumpang watu dan mustaka, kini disimpan rapi di bagian belakang Masjid. Kodisi benda-benda tersebut masih terawat dengan baik sampai saat ini. (NNC) 

No comments

Powered by Blogger.