Antisipasi Musim Kemarau 2018 Distanpangan Siagakan PPL, Mantri Tani Dan POPT

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Sosial - Periode musim hujan 2017–2018, kini sudah mulai berakhir dan musim kemarau 2018 kini sudah menjelang. Kajian BMKG dalam laporan  ’’Prakiraan Musim Kemarau 2018 di Indonesia’’ menyebutkan awal musim kemarau 2018 umumnya dimulai April, Mei, dan Juni 2018.

Masih menurut BMKG, sifat hujan selama periode musim kemarau 2018 di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan akan normal (56,7 %), atas normal (36,5 %), dan bawah normal (6,7 %). Diperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga Oktober.

Terkait dengan hal tersebut, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus mengundang para Penyuluh Pertanian Lapangan ( PPL), Mantri Tani, dan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), untuk mengantisipati dampak kekeringan pada sawah, seiring mulainya musim kemarau.

“Progam hari ini untuk persiapan kita menghadapi musim kemarau. Apa saja kondisi di lapangan dan bagaimana kita berusaha mengatasinya. Sehingga petani kita tidak merugi akibat gagal panen dan ketahanan pangan di Kudus tetap terjaga,” ujar Catur Sulistiyanto Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus saat membuka acara, Senin (14-05-2018).

Suyanto, Mantri Tani wilayah Kecamatan Jati, mengungkapkan bahwa potensi luas lahan tanaman padi yang terancam kekeringan mencapai 132 hektar. Perinciannya Desa Jetis Kapuan 30 hektar, Loram Wetan 30 hektar, Pasuruhan Lor 15 hektar, Pasuruhan Kidul 20 Hektar dan Tanjung Karang 27 hektar.

Para PPL dan BPP serta Mantri Tani saat menyampaikan paparan terkait kondisi dan antisipasi kekeringan di wilayahnya, Senin (14-05-2018). (istimewa/ISKNEWS.COM)

“Rata-rata umur tanaman adalah 21 hari sampai satu bulan. Ada solusi tapi hanya jangka pendek atau sebentar, yaitu menyedot air dari sungai di Kaligali. Tetapi sekarang debit airnya mulai menyusut. Di loram wetan dan Jetis Kapuan, air sungai yang dipompa debit airnya makin habis. Untuk saat ini masih ada airnya, karena itu berharap ada bantuan pompa,” ucap Suyanto.

Hasan, koordinator BPP Kecamatan Undaan dan juga PPL Desa Karangrowo. Mengungkapkan lahan di wilayah kecamatan Undaan yang terancam kekeringan ada 395 hektar yang tersebar di lima desa yaitu Undaan tengah, Undaan Lor, Wates, Ngemplak dan Karangrowo.

“Untuk jangka panjang, berharap adanya pembangunan embung. Tetapi untuk jangka pendek, kami membutuhkan pompa ukuran besar guna menyedot air. Sebab aliran dari kedungombo dihentikan sementara di saluran sekunder, karena adanya pembangunan. Sedangkan di Desa Larikrejo bisa juga termasuk wilayah kekeringan apabila pompa yang ada saat ini tidak segera diganti. Sekarang ada 12 pompa ukuran 6 inch tapi umurnya sudah tua,’ jelas Hasan.

Untuk Wilayah Kecamatan Mejobo terdapat lahan seluas 325 hektar yang tersebar di enam desa, yaitu desa Gulang, Jepang, Payaman, Kirig, Temulus dan Jojo. Selain itu, bisa bertambah Desa Hadiwarno apabila satu bulan kedepan juga tidak turun hujan. Sebab aliran air dari saluran air perempatan Krawang airnya mulai menyusut.

“Kami sangat membutuhkan pompa berukuran besar untuk menyedot air dari sungai Juwana. Jaraknya sampai ke sawah mencapai 1 kilometer, jadi pompa dari dinas yang yang berukuran 4 inch cukup berat. Lebih baik kalau ukuran 6 – 8 inch. Sedangkan khusus Desa Jojo, diharapkan ada normalisasi DAM Ngingas yang mulai dangkal,” kata Rofiq.

Kebutuhan pompa air dan sumur dalam juga disampaikan oleh BPP Kecamatan Jekulo melalui Hardjono. “Lahan di kami yang terancam kekeringan mencapai 400-an hektar terutama di wilayah Desa Gondoharum. Ini sangat dibutuhkan pompa untuk menaikan air dari Sungai Jeratun. Sedangkan untuk kawasan atas (perbukitan -red), kami berharap adanya pengadaan kendaraan sepeda motor jenis trail. Sehingga bisa menerabas sampai ke lokasi,” terang Hardjono.

Permasalahan di BPP kecamatan lainnya juga hampir sama yakni membutuhkan pompa dan sumur dalam. Hal ini sebagai solusi saat debit air sungai desa yang mulai menyusut. Menanggapi hal ini, Catur Sulistiyanto meminta pada semua BPP untuk mengajukan surat resmi permohonan bantuan pompa.

“Nanti suratnya bisa disampaikan ke bu Kabid TPP, Arin Nikmah atau Kasie Sarpras, Ratih Rustyorini.  Sehingga bisa langsung kita sampaikan ke Pemerintah Pusat. Sebab ini kebutuhan mendesak terutama untuk pompa berukuran besar. Kalau untuk yang 4 inch, di brigadi alsintan masih ada,” tuturnya.

Arin Nikmah, Plt Kabid TPP, menambahkan bahwa bantuan pompa yang diajukan diutamakan pada lima kecamatan penyangga pangan yaitu Kecamatan Jati 125 hektar, Kecamatan Undaan 395 hektar, Mejobo 325 hektar , Jekulo 400 hektar dan Kaliwungu 178 hektar. Sedangkan kecamatan lainnya hanya sedikit yang menanam padi.

“Total lahan tanaman yang terancam kekeringan 1.423 hektar. Kebutuhan pompa untuk menyelamatkan tanaman itu diamternya 6 inch 10 unit dan 8 inch 4 unit. Dan juga sumur dalam di beberapa titik. Semoga nanti dari pemerintah pusat segera diproses pengajuan kita,” tukas Arin Nikmah. (NNC).

No comments

Powered by Blogger.