Munjaini, Tetap Optimis Berjualan Mainan Tradisional

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Inspirasi - Meskipun festival dandangan di Kabupaten Kudus belum resmi dibuka. Namun puluhan pedagang telah memadati tepi Jalan Sunan Kudus dan Jalan Kyai Teling. Puluhan pedagang yang menjual kreweng, vas dan bunga tersebut, mayoritas berasal dari Jepara dan Yogjakarta.

Di bahu Jalan Kyai Telingsing terlihat beberapa tenda pedangang lengkap dengan dagangan yang berbaris rapi. Di salah satu jalan tersebut, tepatnya di bawah sebuah tenda kayu dan terpal seadanya, ratusan kreweng (mainan dari tanah liat -red), celengan dan mainan anak ditata rapi. Tidak dipungkiri perpaduan warna-warni kreweng tersebut, menjadi daya tarik bagi anak kecil yang melintas  

Di dalam tenda itu, terlihat seorang wanita tua yang tengah duduk sambil mengamati padatnya arus lalu lintas di Jalan Kyai Telingsing. Dengan memegang selembar kertas, yang dikipaskannya sesekali untuk mendinginkan, panasnya udara siang itu. Sesekali senyumnya merekah, ketika ada orang yang mendekati lapaknya. Dengan ramah nenek Munjaini, melayani setiap pembeli yang datang.

Pembeli yang tengah sibuk memilih kreweng, Kudus, Jumat (04-05-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kepada isknews.com, nenek Munjaini sudi berbagi kisah perjalanan hidupnya menggeluti usaha jual beli kreweng ini. Nenek yang berasal dari Jepara ini, mengaku berjualan kreweng sejak remaja. Latar belakang pendidikan yang rendah, membuat nenek Munjaini tidak memiliki banyak pilihan. Apapun pekerjaan ia lakukan untuk membantu perekonomian keluarganya.

Meskipun telah berusia 72 tahun, Munjaini tetap bersemangat mengais rupiah melalui berjualan kreweng. Ditemani suaminya, Suroyo (82), mereka menjual kreweng tersebut pada even-even di berbagai daerah salah satunya adalah festival dandangan ini.

Berjualan kreweng pada era saat ini tidak mudah. Pergeseran pola permainan anak zaman now, yang cenderung pada permainan digital membuat penjual manian tradisional mengalami penurunan penjualan yang signifikan.

Pembeli yang tengah sibuk memilih kreweng, Kudus, Jumat (04-05-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

"Sekarang minat masyarakat terhadap kreweng telah berkurang. Di bandingkan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini termasuk sepi. Setiap harinya saya hanya mampu menjual 10 - 40 kreweng saja. Itupun sudah alhamdulillah," ucapnya. Akan tetapi, hal tersebut tidak mematahkan semangatnya untuk terus mengais rezeki dari kreweng-kreweng warna-warni itu.

Diakui oleh Murjaini, jika kreweng-kreweng tersebut telah menjadi denyut nadi hidupnya. Dari usaha tersebut, nenek Marjuni dan suami berhasil menyekolahkan keempat anaknya dan mengangkat perekonomian keluarganya. Hal itulah yang membuat dirinya tidak ingin meninggalkan pekerjaan ini.  

"Anak-anak saya sebenarnya melarang kami berjualan, namun bagaimana lagi ini sudah bagian dari hidup saya yang tidak dapat saya tinggalkan. Saat ini, saya hanya membatasi dengan berjualan di daerah sekitar Kudus saja," katanya. 

Untuk barang dagangannya, Murjani mengaku yang dijualnya kini tidak terlalu. Harga kreweng dari pengrajin yang cukup tinggi dan berkurangnya minat pembeli, membuatnya tidak berani membawa dagangan yang banyak. Barang yang dijualnya hanya berupa kreweng, celengan, kodok-kodokan dan mainan tradisional lainnya.

Satu buah kreweng dihargai Rp. 2.000 sedangkan satu buah celengan dihargai Rp. 20.000 - 40.000. Selain menjual celengan dan kreweng, Munjani juga menjual mainan tradisional kodok-kodokan. Mainan yang terbuat dari tanah liat yang menyerupai kepala katak yang dibalut kertas yang daapat mengeluarkan suara yang unik ini dibandrol dengan harga Rp. 2.000 perbuah. 

Salah satu pembeli kreweng, Meylani tidak memungkiri jika kini minat anak dengan kreweng cukup rendah. Namun, dirinya sebagi orang tua terus berusaha memperkenalkan mainan tradisonal seperti kreweng ini kepada anaknya.

"Kalau kreweng ini kan permukaannya tumpul, sehingga saya rasa aman untuk digunakan anak-anak bermain. Selain itu, dari permainan ini, anak saya bisa menuangkan imajinasinya dalam dunia masak memasak. Sekaligus memperkenalkan anak dengan berbagai peralatan masak beserta fungsinya," pungkas Meylani. (NNC) 

No comments

Powered by Blogger.