Nyah Mbancan, Penjual Jamu yang Namaya Jadi Legenda

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Sejarah - Sebuah bangunan tua berwarna hijau yang terletak di Jalan Agus Salim, Kelurahan Panjunan ini, dahulu merupakan rumah dari seorang penjual jamu yang melegenda di Kudus. Ia adalah Nyah Mbancan. Popularitas dan kekayaan Nyah Mbancan sebagai penjual jamu di era penjajahan Belanda, membuat namanya begitu melegenda di masyarakat Kudus.

Popularitas nama Nyah Mbancan, kerap digunakan oleh masyarakat Kudus sebagai petunjukkan jalan atau lokasi. Tak hanya itu. Bahkan, nama tersebut juga sering disebuat dalam ungkapan masyarakat Kudus, sampai saat ini.

"Piye, tuku mobil gowo diute Nyah Mbancan?" salah satu contoh penggalan ungkapan yang menyebutkan nama Nyah Mbancan. Nama Nyah Mbancan pada ungkapan tersebut, menggambarkan seseuatau yang sulit dilakukan berkaitan dengan keuangan.

Tjan Ik Hwa, keturunan ketiga dari Nyah Mbancan mengungkapkan nama aslinya adalah Tjan Ban Tjoan. Karena nama cina tersebut cukup sulit disebutkan oleh masyarakat Jawa. Akhirnya mereka menyebutnya dengan nama Nyah Mbancan.

"Mungkin pada masa itu, nama Tjan Ban Tjoan cukup sulit untuk disebutkan. Sehingga masyarakat menyebutnya dengan nama Nyah Mbancan," ujarnya pada isknews.com, Kamis (31-05-2018).

Dijelaskannya, Nyah Mbancan tersebut dahulu berprofesi sebagai penjual jamu, menyewakan gong, peralatan wayang hingga peralatan hajatan seperti meja, kursi dan piring. Dari usahanya tersebut, Nya Mbancan memperoleh pundi-pundi kekayaan dan dikenal oleh masyarakat Kudus.

Nisan Nyah Mbancan di Jalan Agus Salim Kudus, Kamis (31-05-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM).

"Pada zaman dahulu, Nyah Mbancan merupakan seorang penjual jamu yang laris dan terkenal. Bahkan, pada masa itu banyak orang yang rela antre untuk membeli jamu Nyah Mbancan," kata lelaki 79 tahun tersebut.

Imbuhnya, "Selain dari usaha jamu, Nyah Mbancan juga memiliki usaha penyewaan peralatan wayang. Dimana pada masa itu, pertunjukan wayang menjadi suatu hiburan yang mewah. Sehingga, usaha penyewaan peralatan wayang tersebut cukup berkontribusi melambungkan nama Nyah Mbancan di Kudus."

Menurut Tjan Ik Hwa, Nyah Mbancan meninggal pada tahun 1914 M. Sedangkan suaminya, Go Gin Nio meinggal pada tahun 1935. Sepeninggal keduanya, usaha jamu dan penyewaan peralatan wayang di wariskan kepada anak-anaknya.

Dan kini, usaha tersebut dilanjutkan oleh cicitnya atau generasi keempat dari Nyah Bancan. Tjan Ik Hwa mengaku, usaha penyewaan wayang Nyah Mbancan kini sudah tidak berjalan lagi. Meski begitu, peralatannya sampai saat ini masih ada dan tersimpan baik di rumahnya. 

"Saat ini, pertunjukan wayang kurang diminati masyarakat. Karena itu, usaha penyewaan peralatan wayang Nyah Mbancan, kini sudah tidak berjalan lagi. Yang masih tersisa kini hanya usaha penjualan jamu, yang dilanjutkan oleh generasi ke empat Nyah Mbancan," pungkasnya. (NNC/RM).

No comments

Powered by Blogger.