Penjual Buku Bekas Optimis Mengais Rupiah di Era Digital

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Inspirasi - Di era digital seperti ini, penjual buku bekas masih tetap optimis menjalankan usahanya. Berbagai kendala yang dihadapi tidak melunturkan semangatnya berbagi ilmu melalui buku-buku bekas ini. Para penjual buku bekas percaya, buku-buku bekas ini masih menjadi barang yang bernilai ekonomi. 

"Sebenarnya, banyak alasan yang melatarbelakangi orang untuk membeli buku bekas dibandingkan buku baru. Harga yang lebih murah menjadi orang lebih memilih buku bekas," ujar Edi, penjual buku bekas di Pasar Barang Bekas (Babe) Kudus, Selasa (15-05-2018). Pengalaman Edi selama 11 tahun menjual buku bekas, membuatnya tahu betul berbagai alasan sebagian masyarakat tertarik dengan barang ini.

Diungkapkan Edi, tidak semua buku digunakan dalam jangka waktu yang lama. Seperti halnya buku sekolah dan kuliah, yang hanya digunakan dalam waktu satu atau dua tahun saja, sehingga tidak memerlukan buku yang bagus dan baru.

Peluang inilah yang kemudian ditangkap sebagian penjual buku bekas sebagai lahan usaha. Selain sebagai ladang usaha, Edi menungkapkan bahwa buku bekas ini menjadi media dirinya berbagi ilmu kepada masyarakat.

Lapak penjual buku bekas yang ada di Pasar Barang Bekas Kudus, Selasa (15-05-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM). 

"Saya bukan orang pintar yang memiliki banyak ilmu. Saya hanya bisa membantu masyarakat untuk mendapatkan buku yang diinginkanya. Buku inilah media saya dalam berbagi ilmu," kata pria 30 tahun ini.

Buku bekas yang dijual Edi meliputi buku kesehatan, agama, pengetahuan umum, novel, majalah dan buku sekolah. Buku tersebut didapatkanya dari berbagai daerah di luar Kudus. Harga yang ditawarkan sangatlah murah, yakni dari Rp. 2000 - 15.000 saja.

Meskipun buku-buku ini bandrol dengan harga yang sangat murah, hal ini tidak menjadi jaminan lapaknya diserbu banyak orang. Diakuinya, minat baca masyarakat tidak begitu tinggi. Hal inilah yang menjadi kendala dan tantangan terbesarnya dalam menjalankan usaha ini.

"Untuk pembelinya dari pelajar, pekerja dan masyarakat umum. Buku yang paling dicari adalah buku kesehatan, pengetahuan umum dan buku pelajaran sekolah," tutur warga Desa Burikan ini.

Edi mengungkapkan para penjual di Pasar Barang Bekas Kudus, juga kerap menyambangi lapaknya untuk menghabiskan waktu dengan membaca buku. Hal tersebut, tetap diresponnya dengan baik. Baginya, hal tersebut sudah sangat wajar.

"Sebagian besar orang membeli buku karena telah mengetahui garis besar isinya. Kalau mau baca-baca dulu, saya persilahkan. Karena saya percaya, jika buku tersebut sesuai dengan yang diinginkanya, nanti orang tersebut juga akan membelinya," pungkasnya.

Tidak dipungkirinya, lokasi lapak yang jauh dari pusat pendidikan menjadi sebuah kendala tersendiri bagi Edi dalam memasarkan dagangannya. Apalagi selama ini, ia hanya mengandalkan sistem pemasaran secara offline. Meskipun begitu, ia percaya urusan rezeki sudah ada yang mengatur. Dengan niat untuk berbagi ilmu kepada masyarakat, ia terus menggeluti usaha buku-buku bekas ini. (NNC) 

No comments

Powered by Blogger.