Waspada Ancaman Penyakit Gagal Ginjal

LINTASKUDUS.ISKNEWS.COM, Kesehatan - Berdasarkan hasil Global Burden of Disease tahun 2010, penyakit gagal ginjal merupakan penyebab kematian peringkat ke-27 di dunia tahun 1990 dan meningkat menjadi urutan ke-18 pada tahun 2010. Sedangkan di Indonesia, pada tahun 2013 sebanyak 499.800 penduduk Indonesia menderita penyakit gagal ginjal dan sebanyak 1.499.400 penduduk menderita Batu Ginjal. Bahkan perawatan penyakit ginjal di Indonesia, menempati ranking kedua pembiayaan terbesar dari BPJS kesehatan setelah penyakit jantung.

Tingginya prevalensi dan mortalitas gagal ginjal di Indoensia, menggugah berbagai pihak untuk mensosialisasikan pencegahan dan penatalaksanaan penyakit gagal ginjal. Diungkapkan Kelapa Unit Hemodialisa RS 'Aisiyyah Kudus, dr Budi Istriawan, bahwa gagal ginjal merupakan kerusakan atau penurunan progesif fungsi ginjal selama berberapa bulan atau tahun yang disebabkan oleh penyakit diabetes kronis, hipertensi kronis dan faktor lainnya.

"Penyakit gagal ginjal biasanya disebabkan faktor penyakit kronis seperti diabetes militus dan hipertensi. Penyakit tersebut menyebabkan komplikasi pada organ, terutama ginjal. Komplikasi tersebut, memicu timbulnya penurunan fungsi hingga kerusakan pada ginjal," katanya.

Proses dialisis di RS 'Aisiyyah Kudus, Jumat (27-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

dr. Budi mengatakan, jika ginjal mengalami kerusakan maka proses ekskresi darah yang akan menyebabkan penumpukan cairan di dalam tubuh. Cairan tersebut akan menumpuk pada kaki dan tangan. Kelamaan, cairan tersebut akan menumpuk hingga mencapai organ paru-paru. Paru-paru manusia memiliki selaput semi permiabel yang memungkinkan cairan ini masuk ke dalam paru-paru. Jika paru-paru telah kemasukan cairan, maka akan terjadi sesak nafas. Pada fase ini, biasanya pasien gagal ginjal terdeteksi.

Adapun gejalanya, dr. Budi mengungkapkan seseorang yang mengalami kerusakan ginjal akan mengalami, sesak nafas tidak ada perubahan, susah kencing bahkan tidak dapat kencing, bengkak pada kedua kaki, ektremitas pada tangan, pucat, konjungtivitas pada mata hingga tidak dapat melakukan pekerjaan.

"Jika mengalami gejala tersebut, maka pasien harus melakukan pemeriksaan laboratorium meliputi cek ureum kretinin dan USG. Bila hasil pemeriksaan tersebut menyatakan bahwa pasien mengalami gagal ginjal stage 5, maka dia harus menjalani proses dialisis," jelas dr. Budi, Jumat (27-04-2018).

Imbuhnya, "Gagal ginjal stage 5 adalah suatu kondisi dimana ginjal telah mengalami kerusakan yang parah, sehingga tidak dapat menjalankan fungsinya. Oleh karenanya, penderita gagal ginjal stage 5 harus menjalani proses dialisis untuk menggantikan fungsi ginjal." 

Diungkapkannya, setelah didiagnosa mengalami gagal ginjal, pasien akan mengalami tekanan psikis yang hebat. Tekan psikis tersebut mengakibatkan penurunan nafsu makan, susah tidur, mual, menggigil dan lain-lain. Ditegaskan dr. Budi, bahwa gejala ini merupakan sesuatu yang wajar dan sering terjadi pada pasien gagal ginjal.

"Untuk pasien dealisis baru, akan mengalami gejala seperti itu. Namun, gejala tersebut berangsur-angsur akan hilang seiring pasien menajalani proses dialisis. Sebab, saat proses dialisis pasien baru akan diberikan sosialisasi dan menjalani sharing dengan teman-temanya sesama penderita gagal ginjal. Dari situ tekanan psikis yang dialami akan berkurang dan gejala tersebut akan hilang," pungkasnya. (NNC) 

No comments

Powered by Blogger.